• 1
  • 10
  • 11
  • 12
  • 13
  • 14
  • 15
  • 16
  • 17
  • 18
  • 19
  • 2
  • 20
  • 21
  • 22
  • 23
  • 24
  • 25
  • 26
  • 27
  • 28
  • 29
  • 3
  • 30
  • 31
  • 32
  • 33
  • 34
  • 35
  • 36
  • 37
  • 38
  • 39
  • 4
  • 40
  • 41
  • 42
  • 43
  • 5
  • 6
  • 7
  • 8
  • 9
Please Contact Us for Any Information to Our New Phone Number (021) 8778 5588 We will Serve you Better. PANGLIMA BESAR SOEDIRMAN, International Islamic Junior High School (PBS-IIJHS) Jl. Raya Bogor Km. 24, Cijantung East Jakarta

Laporan Hasil Workshop

LAPORAN HASIL WORKSHOP

PENYUSUNAN NASKAH AKADEMIK

(PENATAAN ULANG KURIKULUM, SATUAN PENDIDIKAN, DAN MATA PELAJARAN)

PUSAT KURIKULUM BALITBANG KEMENDIKDAS

Bismillahirrahmanirrahim,

 

 

Hari dan Tanggal  : 1. Kamis – Sabtu, 28 – 30 Oktober 2010

2. Rabu – Jum’at, 3 – 5 Nopember 2010

 

Tempat                   : 1. Hotel Horison, Jl. Pelajar Pejuang 45 No. 121, Buah Batu,

Bandung, Jawa - Barat

2. Hotel Salak, Jl. Juanda No. 8 Telp. (0251) 8373111

Bogor, Jawa Barat

 

Penyelenggara     : Pusat Kurikulum Balitbang Kemendiknas RI.

Peserta                   : 164 orang (Puskur, Puspendik, Dinas Pendidikan Provinsi,

Kepala Sekolah, Guru, dan Narasumber dari Perguruan Tinggi)

Peserta dari

PB. Soedirman     : 1. H. Suhardi, S.Ag (Kepala SD Islam PB. Soedirman)

2. Drs. H. Nur Alam, MA. (Kepala SMP Islam PB. Soedirman)

3. Drs. H. Syamsuddin Hsb., MM. (Kepala SMA Islam PB.

Soedirman)

 

A. Latar Belakang

 

Prioritas pembangunan nasional sebagaimana yang dituangkan dalam Rencana

Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) Nasional Tahun 2005 – 2025 (UU No. 17

tahun 2007) antara lain adalah: “Mewujudkan masyarakat berakhlak mulia,

bermoral, beretika, berbudaya, dan beradab berdasarkan falsafah Pancasila“.

Salah satu untuk mewujudkannya adalah dengan memperkuat jati diri dan

karakter bangsa melalui pendidikan.

 

Dalam kurun waktu 5 tahun ini (2009-2014), pemerintah menetapkan rencana

strategis bidang pendidikan sebagai prioritas kedua setelah reformasi birokrasi

dan tatakelola. Prioritas di bidang pendidikan adalah peningkatan akses

pendidikan yang berkualitas, terjangkau, relevan, dan efisien menuju

terangkatnya kesejahteraan hidup rakyat, kemandirian, keluhuran budi pekerti,

dan karakter bangsa yang kuat.

 

Menidaklanjuti amanat berbagai kebijakan tersebut, khususnya berkaitan dengan

penyempurnaan kurikulum, metodologi pembelajaran, dan penataan ulang

kurikulum, Pusat Kurikulum menetapkan beberapa kegiatan, salah satu di

antaranya adalah penyusunan naskah akademik setiap mata pelajaran. Kegiatan

ini merupakan satu kesatuan dengan kegiatan sebelumnya, yang telah

menghasilkan sejumlah dokumen Naskah Akademik Penataan Ulang Kurikulum

dan Naskah Akademik Satuan Pendidikan.

 

B. Tujuan

Secara khusus workshop ini bertujuan:

  1. Menyusun kerangka naskah akademik satuan pendidikan dan mata pelajaran;
  2. Memfinalkan Naskah Akademik Penataan Ulang Kurikulum (Naskah Akademik Umum) dan Naskah Akademik satuan pendidikan;
  3. Menganalisis SKL terhadap SKL Ujian Nasional, Kisi-Kisi Soal UN dengan soal mata pelajaran yang termasuk dalam Ujian Nasional (SMP, SMA, SMK)
  4. Menganalisis SKL UN dengan SKL UASBN, Kisi-kisi soal UASBN dengan soal-soal pada mata pelajaran yang termasuk dalam Ujian Akhir Sekolah Berstandar Nasional (UASBN) di Sekolah Dasar.

 

C. Landasan

Kegiatan workshop ini diselenggarakan berlandaskan pada:

  1. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
  2. Peraturan Presiden Nomor 7 tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Nasional.
  3. Peraturan Mendiknas Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.
  4. Peraturan Mendiknas Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah.
  5. Peraturan Mendiknas Nomor 23 tahun 2006 tentang Standar kompetensi Lulusan (SKL).
  6. Peraturan Presiden Nomor 21 Tahun 2009 tentang Rencana Kerja Pemerintah.
  7. Instruksi Presiden Nomor 6 tahun 2009 tentang Pembangunan Ekonomi Kreatif (PEK).
  8. Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2010 tentang Percepatan Pelaksanaan Prioritas Pembangunan Nasional (PPPPN) Tahun 2010.

D. Hasil yang Diharapkan

Hasil yang diharapkan dalam kegiatan ini adalah:

  1. Naskah Akademik Penataan Ulang Kurikulum yang sudah disempurnakan;
  2. Naskah akademik Satuan Pendidikan yang sudah disempurnakan;
  3. Kerangka Naskah Akademik mata pelajaran (25 naskah), terdiri atas mata pelajaran: Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, IPA, IPS, Matematika, dan PKn;
  4. Hasil Analisis terhadap SKL dengan SKL UN dan dengan SKL UASBN;
  5. Hasil Analisis terhadap SKL UN/UASBN dengan Kisi-kisi soal UN dengan soal pada mata pelajaran yang termasuk dalam Ujian Nasional;
  6. Hasil Analisis dan Rekomendasi terhadap SKL dengan Kisi-kisi soal UASBN dengan soal pada mata pelajaran yang termasuk dalam UASBN;
  7. Hasil Analisis Standar Isi dan pelaksanaan pada mata pelajaran PKn.

E. Penutup

 

Berdasarkan hasil workshop tersebut, telah disimpulkan dalam penutup laporan ini bahwa perlu dilakukan penyempurnaan dan penguatan SKL, SI, dan KTSP dengan memperhatikan kebijakan Pemerintah dan kebutuhan masyarakat tentang kualitas tamatan pendidikan SD, SMP, SMA/SMK. Upaya penyempurnaan dan penguatan itu dilakukan melalui:

  1. BSNP perlu merumuskan kembali SKL SD, SMP, SMA/SMK dengan memasukkan nilai-nilai Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa, Kewrausahaan, Ketrampilan, Kemandirian. Rumusan tersebut harus dilakukan dengan memperhatikan karakteristik materi kelompok pengetahuan, ketrampilan, dan nilai. Sesuai dengan karakteristik materi tersebut maka SKL tidak boleh dirumuskan dalam bentuk tujuan.
  2. Satuan pendidikan SD, SMP, SMA/SMK perlu mengembangkan dan memperkuat KTSP dengan nilai-nilai Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa, Kewirausahaan, Ketrampilan, dan Kemandirian dalam dimensi kurikulum sebagai dokumen (rencana), kegiatan/proses (implementasi), dan hasil. Pengembangan dan penguatan itu dilakukan dengan empat langkah sistematis dimulai dari dokumen KTSP, silabus dan RPP, pelaksanaan dan penilaian hasil belajar.
  3. Standar Isi yang berlaku berdasarkan Permen Diknas nomor 22 tahun 2005 perlu disesuaikan dengan pengertian dasar standar dan isi. Standar bukan kurikulum dan dengan demikian standar isi harus dirumuskan kembali sehingga komponen seperti struktur kurikulum, alokasi jam belajar mata pelajaran, distribusi mata pelajaran dalam semester dikembalikan kepada satuan pendidikan yang berhak mengembangkan kurikulum.
  4. Perlu ada sosialisasi yang terencana, menyeluruh, dan menyangkut guru dalam satu kesatuan di satuan SD, SMP, SMA/SMK. Puskur melaksanakan evaluasi terhadap pengembangan kurikulum (currciculum development) yang menyangkut kegiatan pengembangan dokumen (konstruksi), pelaksanaan (akting atau implementasi), dan evaluasi hasil belajar.
  5. Satuan pendidikan SD, SMP, SMA/SMK perlu membangun kegiatan pengembangan kurikulum (perencanaan dan implementasi) dalam suatu kegiatan menyeluruh yang dilakukan seluruh guru dan kepala sekolah secara bersama-sama, dalam ‘community of educators’.
  6. Satuan pendidikan SD, SMP, SMA/SMK perlu menyediakan hari khusus (mungkin setengah hari) untuk pengembangan kemampuan guru dalam pegembangan kurikulum (curriculum development).

Selanjutnya, penyelenggaraan workshop ini secara umum dilakukan dengan pleno, kegiatan

kerja kelompok, di mana masing-masing kelompok akan menghasilkan naskah analisis,

rekomendasi dan tindak lanjut.

Rekomendasi Untuk Pengurus Harian Yayasan dan Majelis Dikdasmen:

  1. Kami menyarankan dalam menghadapi rapat kerja semester genap tahun pelajaran 2010/2011 besok, naskah akademik dan isu-isu aktual ini dapat disosialisaskan kepada seluruh guru mulai dari satuan pendidikan TK, SD, SMP, SMA, dan SMK dalam lingkungan Yayasan Masjid PB. Soedirman;
  2. Sosialisasi dimaksud agar para guru memperoleh ‘pencerahan’ dalam memaknai perubahan dan perkembangan dunia pendidikan lebih awal;
  3. Sebagai respon proaktif dari rekomendasi di atas diperlukan kegiatan perencanaan tindak lanjut sebagai berikut:

No.

Kegiatan

Tahun

2010

2011

2012

2013

2014

1.

Pengembangan SKL dan SI

X

X

-

-

-

2.

Pengembangan Budaya Sekolah

X

X

-

-

-

3.

Penguatan kepala sekolah dan guru dalam kemampuan pengembangan KTSP

X

X

-

 

-

-

4.

Sosialisasi PBKB, Kewirausahaan, Kemandirian, dan Belajar Aktif

X

X

-

-

-

5.

Penguatan KTSP dengan nilai-nilai PBKB, Kewirausahaan, Kemandirian, dan Belajar Aktif

 

-

X

X

 

-

 

-

6.

Implementasi KTSP yang Disempurnakan

-

-

-

X

X

7.

Evaluasi dan Tindak Lanjut

X

X

X

X

X

 

Demikian laporan ini kami buat dengan sesungguhnya, untuk menjadi maklum

dan periksa bagi yang berkepentingan. Semoga hasil-hasilnya dapat bermanfaat

bagi yayasan kita tercinta ini.

Workshop KepSek RSBI Mandiri

 

Workshop Pembinaan Kepala SMP RSBI Mandiri

Angkatan ke-3 se-Indonesia,

Bandung, 27 – 30 Oktober 2009

Dalam kerangka upaya agar sekolah dapat memenuhi delapan standar nasional pendidikan (SNP) dan dimensi keinternasionalan serta selanjutnya menuju ke sekolah yang benar-benar mandiri, maka diperlukan berbagai langkah strategis oleh semua pihak. Beberapa upaya yang dapat ditempuh antara lain adalah melalui serangkaian monitoring, evaluasi, pelatihan atau workshop, pemberian bantuan, dan upaya lain yang relevan. Kasubdit Kesiswaan Direktorat PSMP, Dr. Supriano, M.Ed., menyampaikan, ”Untuk itu, sangat penting diadakannya workshop bagi SMP-RSBI Mandiri Angkatan ke-3 dalam kerangka penyamaan persepsioleh berbagai pihak untuk menyiapkan dan mengembangkan sekolah menuju kemandirian atau sekaligus sebagai Sekolah Bertaraf Internasional (SBI) yang mampu mandiri pula,” demikian harapannya, ketika membuka acara ini mewakili Bapak Direktur PSMP, yang berhalangan hadir.

 

Tujuan dan hasil yang diharapkan dari workshop ini adalah untuk memberikan pemahaman tentang pentingnya berbagai langkah yang harus ditempuh dan disiapkan oleh SMP Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (SMP-RSBI) Mandiri menuju pemenuhan layanan pendidikan yang bermutu dan bertaraf internasional.

 

 

Materi workshop yang disajikan adalah (1) Kebijakan Direktorat PSMP dalam Pembinaan RSBI Mandiri, (2) Implementasi Konsep Kebijakan RSBI Mandiri, (3) Evaluasi Penyelenggaraan RSBI dan Pemenuhan IKKT bagi RSBI Mandiri, (4) RKS dan RKAS, (5) Strategi dan Inovasi dalam Penyelenggaraan RSBI Mandiri, (6) Pengembangan dan Implementasi SKL, Kurikulum RSBI, Pembelajaran dan Bahan Ajar RSBI Mandiri, (7) Konsep dan Implementasi Sistem Penilaian, Ujian Sekolah, Ujian Nasional, dan Ujian Internasional RSBI Mandiri, (8) Strategi Pengembangan Tenaga Pendidik dan Kependidikan bagi RSBI Mandiri, (9) Pembinaan Kesiswaan di RSBI Mandiri, (10) Kepemimpinan dan Wisausaha dalam RSBI Mandiri, (11) Tampilan Best Practicies: SMP Islam Al-Hikmah, Surabaya, (12) Education for Sustainable Development (EfSD), dan (13) Presentasi Peserta.

 

Kegiatan ini berlangsung sejak tanggal 27 – 30 Oktober 2009, bertempat di Hotel Grand Papandayan Convention, Jl. Peta, Bandung Jawa Barat. Menghadirkan banyak narasumber, di antaranya dari para pejabat struktural dan fungsional Direktorat Pembinaan SMP, Depdiknas, fasilitator dari Puskur, Puspendik, ITB, UGM, PMPTK, dan Best Practicies, serta fasilitator dari pihak terkait lainnya. Adapun sasaran worksop SMP-RSBI Mandiri Angkatan ke-3 ini adalah 25 Kepala Sekolah se Indonesia, ditambah 25 guru sebagai penanggung jawab program dari masing-masing sekolah.

 

Acara ini ditutup oleh salah satu konsultan SMP-RSBI Mandiri, setelah masing-masing sekolah peserta mempresentasikan program-programnya selama 1 tahun. Dalam amanatnya, disampaikan bahwa, ”untuk peningkatan dan pengembangan yang berkelanjutan (sustainable improvement), sekolah penyelenggara SMP-RSBI Mandiri akan terus dlakaukan imonitoring dan evaluasi, agar proses penyelenggaraannya benar-benar harus on the right track.” Demikian pesannya.

 

 

 

 

 

 

Refreshing Bali - Yogya

Refreshing Kelas VIII

Berwisata ke Bali – Yogyakarta

6 – 13 Juni 2010

 

 

Refreshing? Oh iya, setiap mahluk hidup sangat perlu refreshing, setelah mereka melakukan aktivitas padat dan rutin, yang kadang dapat membosankan (boring). Refreshing berarti menyegarkan kembali, memang sejatinya dapat membangkitkan kembali semangat dan vitalitas diri, agar dapat beraktivitas lebih excellent lagi dan dapat meningkatkan semangat belajar dan kerja. Apalagi refreshing yang dilakukan berbasis edutainment (education and entertainment).

 

Inilah refreshing yang dilakukan oleh peserta didik kelas VIII SMP Islam PB. Soedirman, Cijantung Jakarta Timur, setelah mereka menyelesaikan ulangan kenaikan kelas (UKK) tahun pelajaran 2009/2010, mulai tanggal 31 Mei – 5 Juni 2010, mereka mengikuti acara rutin sekolah ini, yaitu study tour Bali – Yogyakarta, 6 – 13 Juni 2010, dengan didampingi oleh Wakil Bidang Kurikulum, Wakil Bidang Kesiswaan, beberapa guru sebagai panitia, dan beberapa orang tua. Rombongan study tour kali ini diikuti oleh 95 peserta didik kelas VIII, mereka dilepas oleh Kepala Sekolah, pak Nur Alam, hari Ahad pagi pukul 06.45 WIB., dari halaman sekolah, dengan teriakan takbir 3 seharian penuh mereka 3 kali, “Allahu Akbar”, “Allahu Akbar”, “Allahu Akbar”.

 

“Refreshing yang dikemas dalam study tour ke Bali – Yogyakarta, menggunakan 3 buah bus dari PT. Blue Star, dengan menghabiskan waktu 4 hari 3 malam di pulau Dewata, Bali, dan 2 hari 1 malam di Yogyakarta. Tempat-tempat yang dijadwalkan, hampir seluruhnya dikunjungi, baik yang ada di Bali maupun di Yogyakarta.” Demikian bagian laporan pak Medwi Nugroho, sebagai ketua rombongan ini, yang sehari-hari menjabat sebagai Wakil Kepala Sekolah bidang Kesiswaan.

 

Banyak sekali manfaat yang dapat dipetik dari perjalanan refreshing ke Bali - Yogyakarta

oleh peserta didik, di antaranya, “Mempraktikkan sejumlah teori dari materi yang dibelajarakan di kelas (khusnya praktik ibadah dan bahasa Asing), menjalin kebersamaan dan shilaturrahim di antara peserta, melatih kemandirian, menikmati dan mensyukuri karunia Allah yang Maha Luas, dan menjaga nama baik almamater selama perjalanan.” Demikian, pesan-pesan kepala sekolah ketika melepas mereka dari halaman sekolah.

 

Meskipun perjalanan ini sangat panjang dan cukup melelahkan, namun semua peserta tetap bersemangat dan sehat-sehat saja, “This journey is very long and makes us tired, but we are very happy.” Karena, meskipun di antara mereka sudah sering mengunjungi tempat-tempat tersebut, namun nuasa dan kenaganan perjalanan sangat berbeda, karena mereka berasal dari satu sekolah dengan kelas yang berbeda. Acara diakhiri dengan pembacaan do’a safar (bepergian), oleh H.M. Ichwani. Ma’as Salamah Ilalliqa’.

 

Valentine Day

VALENTINE’S DAY

BERTENTANGAN DENGAN AJARAN DAN AQIDAH ISLAM

Oleh: Nur Alam

Tanggal 14 bulan Februari tahun ini (2009 Masehi) tinggal dalam hitungan beberapa hari lagi. Dalam tanggal dan bulan tersebut biasanya sangat ’dikramatkan’ oleh sebagian masyarakat dunia, terutama di dunia Barat. Perayaan itu ditradisikan dengan saling bertukar kartu tanda ucapan ’kasih sayang’ kepada sesama teman dekat. Bahkan, seringkali perayaan tersebut identik dengan aktivitas propaganda dekadensi moral para remaja. Ironinya, remaja Muslim pun juga ikut-ikutan merayakannya. Pertanyaannya adalah, mengapa remaja-remaja Muslim di Indonesia juga ikut-ikutan larut dalam perayaan tersebut? Apa yang menyebabkan mereka melakukannya?

 

Di antara penyebabnya, mengapa remaja Muslim bisa ikut-ikutan dalam sebuah perayaan yang jelas-jelas bertentangan dengan ajaran dan aqidah Islam, adalah karena mereka belum mengetahui kronologi historisnya. Agar remaja Muslim, khususnya peserta didik SMP Islam PB. Soedirman, Cijantung – Jakarta Timur, tahu mengapa Islam mengharamkan umatnya untuk ikut merayakan Valentine’s Day, berikut ini penjelasannya. Menurut suatu sumber, bahwa hari Valentine berawal dari kisah Pendeta St. Valentine yang hidup pada abad ke-3 Masehi, pada zaman Raja Romawi Claudius II. Suatu ketika, tepatnya tanggal 14 Februari 270 M., Raja Claudius II menghukum mati St. Valentine karena telah mengabaikan perintahnya, di mana pendeta tersebut telah menyeru kepada masyarakat Romawi untuk memeluk agama Nasrani.

Kemudian menurut sumber yang lain disebutkan, bahwa Raja Claudius II menghukum mati St. Valentine karena berani mengadakan pernikahan di Gereja secara sembunyi-sembunyi. Raja tersebut melarang para bujangan untuk menikah, dengan alasan untuk menjaga semangat patriotisme dalam setiap peperangan. Selama menunggu waktu untuk eksekusi mati, St. Valentine berkenalan dengan putri seorang penjaga penjara yang dalam kondisi sakit. Kebetulan St. Valentine berhasil menyembuhkan penyakitnya. Setelah saling kenal tersebut, akhirnya mereka saling mencintai. Ketika waktu eksekusi mati tiba, St. Valentine mengirim kartu kepada gadis pujaan hatinya tersebut dengan menuliskan kalimat, ”Dari yang tulus cintanya, Valentine.”

 

Masih ada sumber lain tentang sejarah hari Valentine tersebut, yaitu adanya sebuah tradisi para pemuda Romawi ketika itu kumpul bareng setiap pertengahan bulan Februari untuk menuliskan nama-nama gadis desa dan mengundinya untuk dijadikan kekasihnya sepanjang tahun. Kemudian para pemuda Romawi tersebut berkirim kartu kepada pasangannya, yang bertuliskan ”dengan nama tuhan ibu, saya kirimkan kepadamu kartu ini.” Nah, untuk kepentingan tersebarnya agama Nasrani, para pendeta mengubah ’tuhan ibu’ dengan nama pendeta Valentine dalam tradisi para pemuda Romawi tersebut.

 

Dari beberapa sumber yang telah dijelaskan di atas, maka sebaiknya para remaja Muslim, khususnya peserta didik SMP Islam PB. Soedirman, Cijantung – Jakarta Timur memperhatikan hal – hal berikut ini:

  1. Tidak mengikuti tradisi agama lain, baik dalam hal aqidah, syari’ah, ibadah, da’wah, maupun tradisi lainnya, karena hal tersebut haram hukumnya, ”Barangsiapa yang mengikuti suatu kaum, maka dia termasuk dari kaum tersebut.” (Hadits Riwayat At-Tirmidzi). Jadi, ikut-ikutan merayakan hari Valentine juga termasuk dalam kategori yang dimaksud hadits di atas;
  2. Meskipun tidak tampak di mata, namun sejarah Valentine mengandung misi da’wah kepada agama tertentu. Maka, berhati-hatilah para remaja Muslim!!!;
  3. Dampak terburuk dari perayaan hari Valentine adalah dekadensi moral bagi manusia, khususnya para remaja. Karena, Islam dengan tegas mengajarkan, bahwa berbagi kasih sayang dan rasa emphati kepada sesama, tidak perlu harus menunggu dan dilakukan pada hari Valentine saja, tapi setiap saat kita bisa melakukannya, dalam batas dan koridor syari’at Islam;
  4. Hindari melakukan tindakan toleransi yang keliru dalam hidup dan kehidupan, yaitu dengan gampang mengikuti setiap ajakan dan propaganda yang dapat menyesatkan aqidah, agama, sosial, budaya, dan lainnya;
  5. Setiap remaja Muslim harus mampu menghadirkan rasa kemuliaan hidup (prestige of life) dengan memeluk agama Islam, dan merasakan kerugian yang sebesar-besarnya, duniawi dan ukhrawi, ketika ikut-ikutan mengikuti ajaran dan tradisi agama lain.

 

Semoga Allah SWT., senantiasa membimbing anak-anak didik, guru, dan karyawan kami dalam meniti jalan yang lurus (Al-Islam), yang penuh ridha-Nya. Amin.

 

Cijantung, 11 Februari 2009

 

Tasyakuran Aksel Akt. IX

 

Tasyakuran

Kelulusan Aksel Angkatan IX

di Hotel Grand Tropic, Jakarta

 

Hari Jum’at, 21 Mei 2010, menjadi hari yang sangat mengesankan bagi anak-anak kelas IX G (Akselerasi), Angkatan ke-IX, SMP Islam PB. Soedirman, Cijantung Jakarta Timur. Mengapa? Karena pada hari itu, 18 peserta didik aksel dengan didampingi oleh Pengurus WOTK-nya, Wakil Bidang Kurikulum, Wali Kelas, dan guru, seharian penuh mereka mengahabiskan waktunya di Taman Impian Jaya Ancol (TIJA), Jakarta Utara, untuk acara tasyakuran kelulusan, sekaligus saling memberikan tanda kenangan di antara mereka. Karena pertengahan bulan Juli 2010 besok, sebagian besar dari mereka sudah tidak satu sekolah lagi, mereka harus berpisah ketika mereka duduk di bangku SMA.

 

Acara inti tasyakuran kelulusan aksel ini diadakan pada malam harinya, yaitu Jum’at malam, di Hotel Grand Tropic, Jakarta Barat. Pak Nur Alam, sang kepala sekolah, didamping para wakilnya, beberapa staf, wali kelas, dan guru, menyempatkan diri menghadiri undangan Pengurus WOTK, yang dikomandani oleh mama Dara dkk., yang sudah menjadi pengurus selama 2 tahun (2008-2010). Dalam sambutannya, “Kami pantas bersyukur atas nikmat kelulusan anak-anak kami yang mencapai 100%, meskipun kami ikut prihatin karena masih ada peserta didik yang belum lulus. Juga kami berterima kasih atas kerja keras dan cerdas guru-guru selama ini, khususnya yang mendidik anak-anak kami di kelas ini.” Demikian, salah satu isi sambutan mama Dara, mengawali acara tasyakuran, yang dimulai pukul 20.00 malam itu.

 

Pak Nur Alam dan guru-guru juga sangat bersyukur, karena capaian rata-rata nilai murni peserta didiknya di kelas aksel ini mencapai 35,00 untuk empat mata pelajaran UN. Bahkan 7 anak aksel mendominasi untuk 10 besar nilai UN tertinggi tahun ini di SMP Islam PB. Soedirman. “Mudah-mudahan nilai-nilai kejujuran yang kalian sudah peroleh selama belajar di sekolah ini, tetap akan kalian lanjutkan di SMA nanti, dan menjadi modal hidup kalian yang paling berharga kelak.” Demikian salah satu pesan pak Nur, yang sangat dalam.

 

Kemudian, para juara kelas mendapatkan piala dari kepala sekolah, yaitu untuk para peraih nilai tertinggi UN dari empat mapel, dan untuk juara umumnya, Vidya Aisya, dengan Nem 38,50. Acara diakhiri dengan pembacaan do’a oleh Bapak Drs. H. Kursin Effendi, Kepala Tata Usaha sekolah ini. Kemudian anak-anak aksel secara bergantian menyerahkan hadiah kepada para pimpinan dan guru-guru yang hadir pada acara tersebut, dilanjutkan dengan saling berjabatan tangan. Selamat jalan anak-anakku, do’a Bapak/Ibu gurumu, semoga kalian lebih sukses lagi di jenjang SMA nanti.

Raker GuKar SMP Islam PB. Soedirman

RAPAT KERJA SEMESTER GENAP

GURU & KARYAWAN SMP ISLAM PB. SOEDIRMAN

di Wisma MUI, Ciloto, 20 – 22 Desember 2009

Dalam rangka meningkatkan kompetensi dan profesionalisme tenaga pendidik dan kependidikan (guru, kepala sekolah, dan karyawan) SMP Islam PB. Soedirman, Cijantung Jakarta Timur, dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya sehari-hari di sekolah, maka upaya-upaya yang dilakukan untuk meningkatkan mutu pendidikan, yang salah satunya adalah memfasiltasi guru-guru agar lebih kompeten dan profesional lewat rapat kerja adalah mutlak diprioritaskan. “Karena guru memiliki peran yang sangat sentral dan stategis dalam peningkatan mutu pendidikan di sekolah,” demikian pendapat kepala SMP Islam PB. Soedirman, pak Nur Alam.

 

Masih menurutnya, “Guru yang kompeten dan profesional adalah guru yang memiliki kemampuan merancang program pembelajaran, mampu menata dan mengelola kelas, memiliki variasi metode dan pendekatan mengajar, selalu meng-update pengetahuan dan wawasan, terampil dalam menggunakan teknologi informasi dan komunikasi, sehingga peserta didik dapat belajar dengan optimal, pada akhirnya mereka dapat mencapai prestasi yang terbaik dibarengi dengan tingkat kedewasaannya, sesuai dengan tujuan akhir dari proses pendidikan nasional”.

 

Rapat kerja guru dan karyawan ini bertujuan untuk: (1) menghasilkan perangkat pembelajaran dan model-model inovatif dan kreatif dalam pembelajaran, dan (2) melakukan persiapan-persiapan proporsional dan optimal, terutama dalam menyiapkan peserta didik Kelas IX untuk sukses dalam Ujian Sekolah dan Ujian Nasional tahun pelajaran 2009/2010, sesuai dengan ekspektasi dan harapan para orang tua peserta didik dan yayasan. Untuk mewujudkannya, “Harus terjadi perubahan paradigma berpikir dan kompetensi guru-guru dalam memberikan layanan pendidikan yang bermutu kepada peserta didik dalam kerangka pemenuhan delapan SNP dan dimensi-dimensi keinternasionalan lainnya, di sekolah”, demikian, ungkap kepala sekolah.

 

Rapat kerja ini dibidani oleh Kepala Sekolah, para Wakil, para Ketua Tim Rekbangkur, Staf, Kepala Tata Usaha dan Bendahara, dengan berkoordinasi kepada Ketua Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah Yayasan Masjid PB. Soedirman dan Komite Sekolah. Sasarannya adalah seluruh guru mata pelajaran yang berjumlah 46 orang, ditambah 15 karyawan. Dilaksanakan mulai hari Ahad – Selasa, 20 – 22 Desember 2009, sehari setelah penyerahan laporan hasil belajar peserta didik (LHBPD) kelas VII – IX kepada orangtua. Berlokasi di Wisma Khadimul Ummah, Majelis Ulama Indonesia (MUI), Ciloto – Cipanas, Jawa Barat, agar lebih focus, nyaman dan tenang dalam bekerja.

Narasumber dalam rapat kerja ini adalah: (1) H. Chalid Karim Leo, SH., M.Sc., M.Pd., Wakil Ketua I Pengurus Harian Yayasan, (2) Drs. H. Agus Rukmana, M.Pd., Ketua Majleis Pendidikan Dasar dan Menengah Yayasan Masjid PB. Soedirman, (3) Drs. Asrom, MM., Pengawas Paket Kecamatan Pasar Rebo/Korwas Sudin Dikdas, Jakarta Timur, (4) Hj. Meuthia Helma, SE., MM., Ketua Komite Sekolah, (5) Drs. H. Nur Alama, MA., Kepala SMP Islam PB. Soedirman, (6) Dra. Hj. Titi Nurmanik, Wakil Bidang Kurikulum, (7) Drs. Medwi Nugraha, Wakil Bidang Kesiswaan, dan (8) Para Ketua Tim Perekayasa dan Pengembang Kurikulum (Rekbangkur), SMP Islam PB. Soedirman.

 

Telah diagendakan pula, selain peserta harus mengikuti sejumlah kegiatan rapat kerja yang sangat padat jadawalnya, peserta juga masih mempunyai kesempatan mengikuti sejumlah kegiatan rileks dan bermakna untuk balancing antara belahan otak kanan dan kiri, di antaranya: tafakur alam, senam pagi, renang, olah raga, qiyamul lail, muhasabah, dan lain-lain.

 

Sisi lain yang menarik dalam raker kali ini adalah semua guru telah mampu menggunakan note book atau laptop, yang mereka sudah memilikinya masing-masing. Sehingga semua pekerjaan menyusun berbagai program pembelajaran menjadi lebih efektif dan efisien. “Subhanallah, wal hamdulillah, wallahu Akbar!...,” itulah kalimat yang paling pantas untuk diucapkan oleh keluarga besar sekolah ini. (afa)

 

Rakernas Kepala SMP RSBI

Rakernas Kepala-Kepala SMP-RSBI

Angkatan ke-1, ke-2, dan ke-3 se Indonesia,

di SMPK4 Penabur, Jakarta Utara, 19 -21 Nopember 2009

 

 

Berbagai kreativitas dan inovasi harus dilakukan oleh penyelenggara RSBI, agar dapat menghasilkan output/lulusan peserta didik yang berkualitas, di mana kompetensi mereka menjadi tuntutan di era global. Oleh sebab itu, diperlukan kerjasama para penyelenggara Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI), mulai angkatan pertama, kedua, dan ketiga. Sehingga dapat dijadikan sebagai jaringan informasi dan komunikasi bagi sesama penyelenggara RSBI tersebut. Untuk itu, keberadaan Forum Forum Komunikasi Kepala Sekolah Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (FKKS-RSBI) ini, perlu ditindaklanjuti dengan mengadakan Rapat Kerja Nasional (Rakernas), melalui kegiatan: Rapat Kerja Nasional Kepala Sekolah RSBI, Seminar Guru RSBI, dan Lomba Siswa RSBI dalam empat mata pelajaran.

Rapat Kerja Nasional RSBI bertujuan melakukan persiapan-persiapan proporsional, terutama dalam menyiapkan peserta didik RSBI angkatan pertama dalam mengikuti Ujian Nasional dan Ujian Sekolah tahun pelajaran 2009/2010, sesuai dengan ekspektasi para stakeholder. Hasil yang diharapkan adalah meningkatnya upaya-upaya RSBI/SBI terhadap pengembangan kapasitas (building capacity) sekolah dalam kerangka pemenuhan SNP dan dimensi dimensi keinternasionalan.

Pelaksana kegiatan ini adalah Forum Komunikasi Kepala Sekolah Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (FKKS-RSBI), berkerja sama dengan Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Pertama, Ditjen Mandikdasmen, Departemen Pendidikan Nasional RI. Waktu pelaksanaan hari Kamis – Sabtu, 19 – 21 Nopember 2009. Bertempat di SMPK 4 BPK Penabur, Jl. Hibrida Raya Blok QF 10 Kelapa Gading, Jakarta Utara, sebagai salah sekolah penyelenggara SMP-RSBI dari swasta.

Materi dalam Rapat Kerja Nasional Kepala Sekolah RSBI adalah (1 Kebijakan Umum tentang Ujian Nasional (UN) dan Ujian Sekolah (US) dari Badan Standar Nasional Pendidikan, (2) Teknik Penilaian Ujian Nasional (UN) bagi penyelengara RSBI

angkatan pertama dari Pusat Penilaian Pendidikan, (3) Kurikulum RSBI dari Pusat Kurikulum, terutama dalam konteks IKKT-nya, (4) Pembinaan dari mantan Kepala Dinas Pendidikan Dasar Provinsi DKI Jakarta, (5) Diskusi Kelompok membahas secara spesifik Indikator Kinerja Kunci Tambahan (IKKT) RSBI terhadap 8 Standar Nasional Pendidikan, (6) Sosialisasi Keputusan-Keputsan MPR RI, dan (7) Menyusun rekomendasi kepada Direktorat PSMP/Dinas Pendidikan Provinsi/Kaupaten/Kota.

Narasumber rakernas ini adalah (1) Kepala Badan Standar Nasional Pendidikan, (2) Kepala Pusat Penilaian Pendidikan, (3) Kepala Pusat Kurikulum, (4) Direktur Direktorat PSMP, (5) Mantan Kepala Dinas Pendidikan Dasar Provinsi DKI Jakarta, (6) Salah satu Anggota MPR RI., dan (7) Fasiltator dari pihak terkait untuk memberikan pengalamannya dalam penyelenggaraan RSBI.

Peserta rakernas berasal dari 326 Kepala sekolah penyelenggaran RSBI Angkatan I, II, III, se Indonesia dan 50 kepala sekolah SMP Negeri Jakarta. Sedianya rakernas ini akan dibuka oleh Bapak Mediknas RI, tapi karena beliau berhalangan hadir, diwakilkan oleh Bapak Direktur Jenderal Mandikdasmen, Depdiknas, Prof. Suyanto, Ph.D. Dalam salah satu pesannya, “Sekolah-sekolah penyelenggara RSBI harus mampu meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia, dengan menjadikan proses dalam pembelajaran yang bermakna (meaningful).” Dan pada acara penutupan disampaikan bahwa, “Kegiatan semacam ini harus ditingkatkan dan dilanjutkan pada tahun-tahun yang akan datang, karena banyak manfaat yang diperoleh oleh seluruh sekolah peserta.” Demikian harapan Bapak Direktur PSMP, Drs. Didik Suhardi, M.Si, ketika menutup rakernas.    

 

Di samping acara rakernas, juga diselingi dengan berbagai tampilan kebolehan peserta didik RSBI dari berbagai sekolah yang hadir, termasuk guru-gurunya. Berbagai aneka tari dan seni dipersembahkan kepada para tamu, yang memenuhi aula, tidak kurang dari 1000-an undangan menghadiri perhelatan akbar ini. Peserta didik SMP Islam PB. Soedirman, juga tidak ketinggalan ikut ambil bagian dengan menampilkan Rampak Gendang yang unik. Tepuk tangan dan kilatan kamera menyambut tampilan ini, termasuk Bapak Dirjen tersenyum-senyum menikmati alunan gendang dan gamelan yang dibunyikan dengan apik dan kompak.

 

Di akhir acara, Ketua Panitia Rakernas, yang juga sebagai Ketua Umum Forum Komunikasi Kepala Sekolah RSBI se Indonesia, Drs. H. Adi Dasmin, MM. (Kepala SMPN 115, Jakarta), sambil mengucapkan terima kasih yang setulusnya atas terselenggaranya rakernas ini dengan sukses, juga meminta kepada Kepala-Kepala Sekolah SMP-RSBI dari Bali, agar bersedia menjadi tuan rumah untuk acara serupa tahun 2010 besok.

 

 

 

Penerapan SMM di SMP Islam PB.Soedirman

Penerapan Sistem Manajemen Mutu (SMM) ISO 9001:2008

di SMP Islam PB. Soedirman, Jakarta

 

 

 

Sasaran mutu, khususnya mutu dalam pendidikan (quality of education), menjadi bagian terpenting yang tidak boleh ditawar-tawar lagi. Karena dengan memiliki mutu pendidikan yang baik, sebuah bangsa atau negara di dunia ini, dapat dipastikan akan mampu mencapai tingkat kemajuan dan kesejahteraan bagi rakyatnya, dalam segala lini kehidupannya. Maka, penerapan sistem manajemen mutu (SMM) ISO 9001:2008, di SMP Islam PB. Soedirman, Jakarta Timur, menjadi sebuah ‘keniscayaan’, untuk menjadikan lembaga pendidikan Islam ini ke depan, mampu meningkatkan mutu pendidikannya, yang selama ini telah menjadi dambaan para stakeholder-nya.

 

Mengapa SMM ISO 9001:2008 mulai diterapkan di sekolah ini? Jawabannya adalah, pertama, di samping alasan sebagaimana dengan uraian di atas, dan alasan kedua, kantor Kementerian Pendidikan Nasional RI., mempersyaratkan bahwa dalam pengelolaan pendidikan bagi penyelenggara RSBI di Indonesia, harus menerapkan SMM ISO tersebut, seperti juga persyaratan lainnya, di antaranya melaksanakan proses pembelajaran dengan bilingual system, dan melakukan jalinan kerjasama dalam bentuk sekolah kembar (sister school) dengan sekolah-sekolah pada negara maju di dunia, yang memiliki keunggulan di bidang pendidikan atau negara-negara OECD.

 

Negara-negara maju mana saja di dunia yang termasuk ke dalam organisasi OECD? Negara-negara maju di dunia, yang memiliki keunggulan di bidang pendidikan, organisasinya dinamakan OECD (Organization for Economic Co-operation and Development). OECD, yang berlokasi di Paris, pada tahun 1960, dengan 30 anggota, adalah organisasi internasional untuk membantu pemerintahan negara-negara yang anggotanya menghadapi tantangan global ekonomi, khususnya di bidang pendidikan. Negara-negara tersebut adalah: Australia, Austria, Belgia, Canada, Czech Republik, Denmark, Finlandia, Prancis, German, Greece, Hungaria, Islandia, Irlandia, Italia, Jepang, Korea, Luxemburg, Mexico, Belanda, Selandia Baru, Norwegia, Polandia, Portugal, Slovakia, Spanyol, Swedia, Switzerland, Turki, Inggris, dan Amerika. Tahun 2007 bertambah lagi, Chili, Estonia, Israel, Russia, Slovenia, Brazil, China, India, Indonesia, dan Afrika Selatan.

Sejumlah pertanyaan di bawah ini dalam konteks SMM ISO 9001:2008 tersebut di atas, yang sangat menginspirasi SMP Islam PB. Soedirman, Jakarta, memiliki panggilan moral dan kebutuhan organisasi untuk menerapkan SMM ISO 9001:2008, mulai tahun pelajaran 2010/2011 yang tinggal satu bulan lagi akan berakhir.

 

Bagaimana supaya pendidikan di sekolah ini ber-’mutu’? Jawabannya, harus ada “Sistem” di dalam suatu organisasi sekolah tersebut. Sistem adalah suatu proses atau kegiatan yang meliputi perencanaan, pelaksanaan, pemantauan, pengukuran, peninjauan dan tindak lanjut. Kemudian, apakah sistem tersebut harus dikelola? Agar sistem tersebut dapat berjalan dengan baik harus ditetapkan arah (kebijakan) dan tujuannya (sasaran) dan bagaimana mencapai tujuan atau sasaran tersebut.

Sistem Manajemen Mutu (SMM) itu meliputi apa saja?. Sistem ini meliputi perencanaan (kebijakan dan sasaran mutu), penerapan, monitoring dan evaluasi pencapaian serta perbaikan secara berkelanjutan (sustainable improvement or continual improvement) terkait mutu. Tujuan dan manfaat kebijakan dan sasaran mutu, adalah untuk:

 

  1. Kebijakan mutu memberikan kerangka kerja untuk menetapkan dan meninjau sasaran mutu
  2. Sasaran mutu mendorong adanya penyempurnaan dan pencapaiannya harus dapat diukur
  3. Pencapaian sasaran mutu harus berdampak positif pada mutu produk, efektifitas operasional dan kinerja keuangan.
  4. Memberikan fokus ke arah mana organisasi akan bergerak
  5. Memberikan gambaran akan sumber daya yang dibutuhkan oleh suatu organisasi.

Mengapa harus dengan ISO Seri 9001 versi 2008 untuk pengelolaan pendidikan yang bermutu di sekolah ini? Karena ISO seri tersebut menjadi panduan untuk menyediakan produk atau jasa supaya bermutu, dan sekaligus menjadi standar tersukses yang pernah diterbitkan oleh ISO selama ini. Diterbitkan oleh International Organization for Stantardization (ISO), sebuah federasi dunia badan-badan standar nasional yang berpusat di Swiss.

 

Apa keuntungannya dengan penerapan ISO 9001:2008 untuk pengelolaan pendidikan di sekolah ini? Dengan penerapan ISO ini, keuntungannya adalah: (1) dapat digunakan oleh semua sektor industri, tanpa kecuali, (2) mudah digunakan, bahasanya jelas sehingga mudah dimengerti, (3) pengurangan jumlah dokumentasi yang dipersyaratkan, (4) menyesuaikan dengan proses yang ada di suatu organisasi sekolah, (5) mendorong perbaikan kinerja suatu organisasi sekolah melalui perbaikan yang berkesinambungan dan peningkatan kepuasan pelanggan, dan (6) mudah dipadukan dengan standar sistem manajemen lainnya.  


ISO Seri 9001:2008 dalam persyaratan-persyaratannya, mengaplikan prinsip-prinsip apa saja?
Terdapat 8 Prinsip Manajemen di dalamnya, yaitu : (1) fokus kepada pelanggan, (2) kepemimpinan,(3) keterlibatan staf dan karyawan, (4) pendekatan pada proses, (5) pendekatan pada sistem dalam manajemen, (6) perbaikan yang berkesinambungan, (7) pendekatan yang faktual dalam pengambilan keputusan, dan (8) hubungan saling menguntungkan dengan pelanggan.

Bagaimana strukturnya untuk penerapan ISO 9001:2008 di sekolah ini? Strukturnya adalah sebagai berikut: (1) Persyaratan utama dalam menerapkan sistem manajemen mutu adalah adanya komitmen dari manajemen puncak, (2) Manajemen puncak haruslah secara nyata menjelaskan komitmen dan menjelaskan sasaran yang ingin diraih organisasi, dan (3) Dapat dilakukan dengan cara menunjuk wakil manajemen yang berfungsi sebagai penghubung antara manajemen perusahaan dan badan sertifikasi serta memastikan bahwa sistem manajemen mutu diterapkan sebagaimana mestinya.

 

Untuk mewujudkan semua pertanyaan tersebut di atas, mulai tanggal 21 Januari 2010, SMP Islam PB. Soedirman, Jakarta, telah menandatangani Memorandum of Agreement (MoA) atau nota kesepahaman, dengan lembaga-lembaga berikut ini:

 

  1. PT. Nadiya Consultant, Jl. Pajajaran No. Bogor, sebagai lembaga konsultan yang telah memfasilitasi Tim Penanggung Jawab SMM ISO 9001:2008, SMP Islam PB. Soedirman, Jakarta, dalam melakukan sosialisasi, persiapan, pelatihan, pendokumentasian, sampai kepada fasilitasi pelatihan internal audit, pre-assessment, dan tinjauan manajemen.
  2. PT. SGS INDONESIA, Jl Cilandak Jakarta Selatan, sebagai lembaga sertifikasi resmi, yang memiliki kewenangan untuk melakukan audit eksternal (akreditasi) dan penerbitan sertifikat SMM ISO 9001:2008, di sekolah ini.

 

Akhirnya, dengan mengucapkan rasa syukur yang tulus, Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamin, tepat pada 30 Juni 2010, SMP Islam PB. Soedirman, Jakarta, telah ditetapkan oleh PT. SGS Indonesia, Jakarta, sebagai sekolah yang sudah memiliki sertifikat SMM ISO 9001:2008

 

Sukses sekolah ini dalam meraih sertifikat SMM ISO 9001:2008, karena berkah dukungan moral dan finansial para pihak, khususnya pihak yayasan dan komite sekolah. Namun secara khusus, sangat perlu untuk diberikan apresiasi kepada Tim Penanggung Jawab Program yang dibentuk oleh kepala sekolah. Mereka terdiri atas guru-guru dan karyawan SMP Islam PB. Soedirman, Jakarta, yang telah mencurahkan secara total, baik tenaga, pikiran, pengalaman, wawasan, waktu, loyalitas, dedikasi, dan konstribusi positifnya, selama lebih dari lima bulan, di tengah kesibukan mereka melaksanakan tugas pokok dan fungsiunya (tupoksi) sebagai pendidik dan tenaga kependidikan di sekolah. Semoga Allah SWT., membalas mereka dengan lipatan kebaikan dan pahala kelak, Amin. (Afa)

 

PTK guru SMP Islam PB. Soedirman

Seminar dan Workshop Sehari:

 

PENELITIAN TINDAKAN KELAS (PTK)

Khusus untuk Guru–Guru SMP Islam PB. Soedirman, 15 Agustus 2009

A.   Pendahuluan

Menjadi guru atau pendidik yang profesional merupakan keharusan dan pilihan profesi mulia. Untuk menunjang keberhasilannya sebagai guru atau pendidik dalam melaksanakan proses pembelajaran di kelas, seorang guru harus melaksanakan 5 (lima) tugas pokok dan fungsi (tupoksi) dalam tugasnya sehari–hari di sekolah, yaitu (1) merencanakan dan merancang pembelajaran, (2) melaksanakan proses pembelajaran sesuai dengan rancangannya, (3) melakukan evaluasi, penilaian dan tindak lanjutnya, (4) melakukan pembimbingan dan konseling kepada peserta didik, dan (5) melaksanakan tugas-tugas tambahan lainnya dari sekolah.

 

Dalam melaksanakan kelima tupoksinya tersebut, seorang guru yang profesional harus mampu menunjukkan lima unjuk kerjanya, yaitu:

 

  1. keinginan untuk selalu menampilkan perilkau yang mendekati ideal;
  2. meningkatkan dan memelihara citra profesi;
  3. mengembangkan kompetensi profesionalitasnya untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas pengetahuan dan keterampilannya;
  4. mengejar kualitas dan cita-cita dalam profesinya; dan
  5. memiliki kebanggaan terhadap profesi guru yang disandangnya.

 

Untuk mewujudkan kelima unjuk kerja guru tersebut, dibutuhkan sikap kreatif, inovatif, dan proaktif yang berorientasi pada memperbaiki dan meningkatkan kualitas proses pembelajaran di kelas. Salah satu upaya untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas proses pembelajaran di kelas adalah dengan melakukan penelitian tindakan kelas (PTK), sebagai upaya atau usaha bagi guru menyelesaikan masalah-masalah pembelajaran yang terjadi di kelas.

 

Bagaimanapun idealnya standar isi (kurikulum) dan standar kompetensi lulusan (SKL) serta standar-standar lainnya, tanpa didukung oleh standar proses yang berkualitas, maka standar-standar tersebut tidak akan memiliki nilai apa-apa. Dalam konteks itulah, maka standar proses pendidikan merupakan hal yang harus mendapat perhatian serius bagi semua guru. Salah satu upaya guru untuk meningkatkan proses pembelajarannya adalah adanya kemauan atau usaha yang sungguh-sungguh untuk melakukan penelitian tindakan di kelas atau penelitian tindakan kelas (PTK), yang bertujuan untuk memperbaiki dan meningkatkan hasil belajar peserta didik yang selama ini hampir belum pernah dicobakan.

 

Realitas menunjukkan, bahwa dirasakan adanya masalah-masalah oleh guru dalam melaksanakan proses pembelajarannya di kelas, di mana guru merasakan adanya ketidakpuasan terhadap hasil belajar peserta didik selama ini. Berikut ini masalah-masalah yang biasa terjadi di lapangan seperti:

 

1. Rendahnya hasil belajar peserta didik,

2. Rendahnya motivasi belajar peserta didik;

3. Proses pembelajaran di kelas terkesan membosankan;

4. Kurangnya keberanian peserta didik dalam mengemukakan pendapat; dan

5. Kurangnya keberanian peserta didik untuk bertanya, dan seterusnya.

 

Masalah-masalah tersebut di atas, yang biasa terjadi dalam proses pembelajaran di kelas dapat dicari solusinya, yang salah satunya adalah melalui penelitian tindakan kelas (PTK), sebagai upaya untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas pembelajaran, sehingga proses pembelajaran di kelas menjadi lebih menyenankan, kreatif, dinamis, inovatif, dan bermakna. Pelaksanaan penelitian tindakan kelas harus dikembangkan dalam dunia pendidikan untuk mewujudkan budaya belajar (learning culture) di sekolah.

 

Jadi, penelitian tindakan kelas merupakan suatu penelitian yang mengangkat masalah-masalah aktual yang dihadapi oleh guru di kelasnya. Dengan melaksanakan penelitian tindakan kelas, sesungguhnya guru telah memiliki peran ganda, yaitu sebagai praktisi sekaligus peneliti.

 

Seminar dan Workshop Sehari tentang Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini telah dilaksanakan di SMP Islam PB. Soedirman, hari Sabtu, 15 Agustus 2009, di Ruang Rapat Sekolah, dengan diikuti oleh seluruh guru (46 guru), dengan narasumber utama Kepala Sekolah, didampingi oleh tiga Bapak/Ibu guru yang berperan sebagai model.

 

B.   Sejarah Penelitian Tindakan Kelas

Akhir-akhir ini PTK berkembang dengan pesat di negara-negara maju, seperti Amerika Serikat, Kanada, Australia, Inggris, dan beberapa negara maju lainnya. Hal ini disebabkan jenis penelitian ini memiliki kekhasan dan kekhususan serta karakteristik terendiri dibandingkan dengan jenis penelitian pada umumnya. PTK diyakini menawarkan cara dan prosedur baru untuk meningkatkan profesionlaisme guru dalam proses pembelajaran di kelas, dengan melihat berbagai indikator keberhasilan proses dan hasil belajar pada peserta didik (Suyanto, 1977).

Penelitian Tindakan Kelas (PTK) pertama kali diperkenalkan oleh ahli psikologi sosial Amerika yang bernama Kurt Lewin pada tahun 1946. Inti gagasan Lewin inilah yang selanjutnya dikembangkan oleh ahli-ahli lain seperti Stephen Kemmis, Robin McTaggart, John Elliot, Dave Ebbutt, dan sebagainya.

PTK di Indonesia baru dikenal pada akhir dekade 80-an. Oleh karenanya, sampai dewasa ini keberadaannya sebagai salah satu jenis penelitian masih sering menjadikan pro dan kontra, terutama jika dikaitkan dengan bobot keilmiahannya. Jenis penelitian ini dapat dilakukan di dalam bidang pengembangan organisasi, manejemen, kesehatan atau kedokteran, pendidikan, dan sebagainya. Di dalam bidang pendidikan penelitian ini dapat dilakukan pada skala makro ataupun mikro. Dalam skala mikro misalnya dilakukan di dalam kelas pada waktu berlangsungnya proses pembelajaran terhadap suatu pokok bahasan tertentu pada suatu mata pelajaran. Untuk lebih detailnya berikut ini akan dikemukan secara singkat mengenai PTK.

Akhir-akhir ini penelitian tindakan kelas telah menjadi trend di kalangan para guru profesional. Oleh karena itu, menurut Arikunto (2007:23) ada beberapa syarat bagi guru dalam melakukan tindakan kelas, yaitu:

 

1. PTK harus tertuju pada hal-hal yang terjadi di dalam proses pembelajaran di kelas;

2.   PTK tidak boleh mengganggu proses pembelajaran di kelas;

3. PTK menuntut dilakukan pencermatan secara terus menerus, aritinya dicatat dan direkam dengan baik, sehingga dapat diketahui dengan pasti tingkat keberhasilan atau penyimpangannya yang terjadi;

4. PTK hendaknya konsisten dengan rancangan yang telah dibuat, dan masalah yang dikaji benar-benar masalah yang dihadapi guru dalam proses pembelajaran di kelas;

5. PTK harus dilakukan sekurang-kurangnya dalam dua siklus yang berurutan atau secara simultan;

6. PTK dilakukan secara wajar, artinya tidak boleh memilih-milih peserta didik dalam kelas, tetapi harus melakukan tindakan pada semua peserta didik di dalam kelas tersebut.

7. PTK hendaknya dimulai dari masalah yang sederhana, nyata, jelas, dan tajam;

8. PTK harus benar-benar menunjukkan adanya tindakan yang dilakukan oleh sasaran tindakan, yaitu peserta didik yang sedang belajar;

9. PTK bertujuan untuk membelajarkan guru dan peserta didik, agar meningkatkan kemauan dan kompetensi berpikir kritis, sistematis, dan inovatif; dan

10. PTK harus menjadikan fokus perbaikan dan peningkatan kualitas proses dan hasil pembelajaran di kelas.

C.   Mengapa Guru Harus Melakukan Penelitian Tindakan Kelas (PTK)

 

Mengapa guru harus melakukan penelitian tindakan kelas (PTK)? Pertanyaan tersebut merupakan pertanyaan dasar dan juga pertanyaan yang paling utama tentang alasan mengapa guru harus melakukan PTK dan apa kepentingannya bagi ilmu pengetahuan dan dunia pendidikan.

 

Alasan utama mengapa guru harus melakukan PTK adalah karena adanya kondisi yang belum stabil dan belum sampai pada status nyaman, atau dengan kata lain ada suatu kondisi yang harus diperbaiki. Kondisi ini dalam bidang pendidikan ataupun bidang sosial dapat dilihat secara konkrit sebagai kondisi di mana terjadinya banyak masalah dalam bidang tersebut. Contohnya, dalam bidang pendidikan adalah (1) keadaan di mana nilai peserta didik tergolong rendah, (2) motivasi belajar peserta didik rendah, (3) minat peserta didik belajar rendah, (4) kinerja guru dan kompetensi guru rendah, dan (5) output lulusan belum memuaskan berbagai pihak.

 

Keadaan di atas merupakan masalah yang harus dipecahkan penyebabnya. Di antara penyebab terjadinya masalah itu adalah:

 

1. Adanya kesenjangan antara harapan dan kenyataan (hope and reality)

2. Adanya kesenjangan antara pengalaman dan kenyataan (experience and reality)

3. Adanya kesenjangan antara teori dan praktek (theory and practice)

Penelitian tindakan kelas (PTK) merupakan salah satu cara yang dapat dilakukan untuk menyelesaikan masalah-masalah tersebut. Untuk melakukannya, penelitian tindakan kelas (PTK) harus dikembangkan berdasarkan cara-cara ilmiah yang benar, di mana penelitian harus didasarkan pada ciri-ciri keilmuan, yaitu rasional, empiris dan sistematis. Selengkapnya dijelaskan berikut ini:

 

(1)     Rasional, dapat diartikan bahwa penelitian harus dilaksanakan dengan cara yang masuk akal dan tentunya harus dapat diterima dengan akal manusia.

(2)     Empiris, dapat diartikan bahwa penelitian yang dilaksanakan harus dapat diamati oleh pancaindera manusia, artinya dapat dilihat, didengar, dan dirasakan oleh orang lain.

(3)     Sistematis, dapat diartikan bahwa penelitian harus dilaksanakan dengan proses-proses yang berturutan, sehingga dapat didokumentasikan dengan baik.

D. Tujuan Penelitian Tindakan Kelas

Penelitian tindakan kelas bertujuan sebagai berikut:

1. Memecahkan permasalahan nyata yang terjadi di dalam kelas yang dialami langsung dalam interaksi antara guru dengan peserta didik yang sedang belajar, meningkatkan profesionalisme guru, dan menumbuhkan budaya akademik di kalangan para guru;

2. Meningkatkan kualitas proses pembelajaran di kelas secara terus menerus mengingat masyarakat dan ilmu pengetahuan terus berkembang sangat cepat;

3. Meningkatkan relevansi pendidikan, hal ini dapat dicapai melalui peningkatan proses pembelajaran;

4. Sebagai in-service training, yang dapat melengkapi guru dengan skill dan metode baru, mempertajam kekuatan analisisnya dan mempertinggi kesadaran dirinya;

5. Sebagai alat untuk memasukkan pendekatan tambahan atau inovasi terhadap sistem pembelajaran yang berkelanjutan;

6. Meningkatkan hasil mutu pendidikan melalui perbaikan praktik pembelajaran di kelas dengan mengembangkan berbagai jenis keterampilan dan meningkatnya motivasi belajar siswa;

7.   Meningkatkan profesionalitas pendidik dan tenaga kependidikan;

8. Menumbuhkembangkan budaya akademik di lingkungan sekolah, sehingga tercipta sikap proaktif dalam melakukan perbaikan mutu pendidikan dan pembelajaran secara berkelanjutan’;

9.   Meningkatkan efisiensi pengelolaan pendidikan dan pemanfaatan sumber-sumber daya yang terintegrasi di dalamnya;

E.   Prinsip-Prinsip Penelitian Tindakan Kelas

Prinsip dalam PTK adalah sebagai berikut:

1.     Tidak boleh menggangu proses belajar dan tugas mengajar;

2.   Tidak boleh terlalu menyita waktu;

3.   Metodologi yang digunakan harus tepat dan terpercaya;

4.   Masalah yang diangkat benar-benar ada dan sedang dihadapi guru;

5.   Memegang etika kerja (minta ijin, membuat laporan, dan lain-lain);

6.   PTK bertujuan memperbaiki atau meningkatkan mutu proses pembelajaran;

7.   PTK menjadi media guru untuk berpikir kritis dan sistematis;

8. PTK menjadikan guru terbiasa melakukan aktivitas yang bermakna akademik dan ilmiah;

9. PTK hendaknya dimulai dari permasalahan pembelajaran yang sederhana, konkret, jelas, dan tajam;

F.   Etika Guru sebagai Peneliti

Ketika guru melakukan peneltian tindakan kelas, ada hal-hal yang perlu dipegang sebagai etika seorang peneliti, yaitu:

1.   Meminta persetujuan kepada orang-orang yang berwenang sebelum meneliti;

2.   Menyertakan teman-teman sejawat terlibat dalam PTK;

3.   Terhadap teman sejawat yang tidak terlibat, perhatikan pendapat mereka;

4. Penenlitian berlangsung terbuka dan transparan serta sara-saran diperhatikan;

5.   Catatan dan deskripsi kegiatan hendaknya relevan, akurat, dan adil;

6.   Hasil penelitian harus dilaporkan setelah disetujui oleh yang berwenang.

G. SIKLUS PELAKSANAAN PTK

Gambar: Model John Elliot

Secara singkat, pada dasarnya PTK terdiri dari 4 (empat) tahapan dasar yang saling terkait dan berkesinambungan: (1) perencanaan (planning), (2) pelaksanaan (acting), (3) pengamatan (observing), dan (4) refleksi (reflecting).

Demikianlah, secara keseluruhan keempat tahapan dalam PTK ini membentuk suatu siklus. Siklus ini kemudian diikuti oleh siklus-siklus lain secara bersinambungan seperti sebuah spiral. Kapan siklus-siklus tersebut berakhir? Pertanyaan ini hanya dapat dijawab oleh si peneliti sendiri. Kalau dia sudah merasa puas terhadap hasil yang dicapai dalam suatu kegiatan PTK yang dia lakukan, maka dia akan mengakhiri siklus-siklus tersebut. Selanjutnya, dia akan melakukan satu identifikasi masalah lain dan kemudian diikuti oleh tahapan-tahapan PTK baru guna mencari solusi dari masalah tersebut.

H.   Simpulan

Pada hakekatnya, PTK adalah instropeksi guru dalam melaksanakan kinerjanya sebagai guru. Dengan melakukan PTK, para guru dituntut untuk memperbaiki kinerjanya dalam rangka meningkatkan kualitas pembelajarannya di kelas. Melalui PTK, akan ditemukan potensi unik peserta didik yang harus dicatat perkembangannya oleh guru selama melakukan penelitian tindakan kelas. Untuk melaksanakan PTK yang berhasil, guru harus melakukan 5M, yaitu: (1) Melihat, (2) Membaca, (3) Menulis, (4) Meneliti, dan (5) Melaporkan.

Kelima M itu harus senantiasa dilakukan oleh guru dalam melakukan PTK, dan diimbangi dengan pemahaman siklus PTK yang benar. PTK yang benar dimulai dari perencanaan, tindakan perbaikan, pengamatan, dan refleksi. Bila itu telah dilakukan oleh seorang guru, maka kesuksesan dalam melakukan PTK sudah ada di depan mata. Oleh karenanya, guru juga harus memiliki 8K, yaitu: (1) Kemauan Kuat, (2) Kerja Keras, (3) Koneksi, (4) Komitmen, (5) Konsisten, (6) Kontekstual, (7) Kreativitas, dan (8) Kredibel

Setelah mempelajari konsep-konsep PTK dalam seminar dan workshop sehari ini, akan lebih dapat dimemahami arti dari sebuah keragaman, bukan keseragaman. Semakin ditemukan begitu banyak masalah yang dapat digali dalam melakukan PTK. Jadi, kalau ada guru yang belum bisa melakukan PTK, berarti guru tersebut belum memahami apa itu PTK dan perlunya PTK bagi guru untuk menjadikan dirinya profesional dan bermartabat.

I.   Rekomendasi

Dari seminar dan workshop sehari tentang penelitian tindakan kelas (PTK) ini, diwajibkan kepada seluruh guru SMP Islam PB. Soedirman untuk memulai penelitian ini, baik secara individual maupun kolaboratif dengan teman-teman guru serumpun mata pelajaran. Lebih spesifik lagi bagi guru-guru yang sudah mengikuti sertifikasi baru baru ini.

 

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi dkk., 2006, Penelitian Tindakan Kelas, Jakarta: Bumi Aksara.

 

E. Mulayasa, 2009, Praktik Penelitian Tindakan Kelas, Bandung: Remaja Rosdakarya.

 

Iskandar, 2009, Penelitian Tindakan Kelas, Jakarta: GP Press.

 

Kunadar, 2009, Langkah Mudah Penelitian Tindakan Kelas Sebagai Pengembangan Profesi Guru, Jakarta: Rajawali Pers. 

 

Muslich, Masnur, 2009, Melaksanakan Penelitian Tindakan Kelas Itu Mudah, Jakarta: Bumi Akasara.

 

Rahmat Dede dkk., 2009, Cara Mudah Melakukan Tindakan Kelas, Jakarta: Trans Info Media.

 

Riduwan, 2006, Belajar Mudah Penelitian Untuk Guru, Karyawan, dan Ibu Rumah Tangga, Bandung: Alfabeta. 

 

Suroso, 2009, Penelitian Tindakan Kelas Peningkatan Kemampuan Menulis Melalui Classroom Action Reseach, Yogjakarta: Pararaton. 

 

 

 

 

 

---------------------

 

 

 

Wisuda ke-39

Pelepasan Peserta Didik Kelas IX Angkatan ke-39

di Sasono Langen Budoyo, TMII, 3 Juni 2010;

Pagi yang sangat cerah itu adalah hari yang sangat berbahagia dan ditunggu-tunggu oleh peserta didik kelas IX SMP Islam PB. Soedirman, Jakarta, angkatan ke-39, yang berjumlah 243 peserta didik. Kenapa demikian? Iya, karena mereka akan diwisuda dan dilepas oleh kepala sekolah, kemudian diserahkan kemabali kepada para orang tua mereka setelah mereka menyelesaikan seluruh aktivitas ujian sekolah, ujian praktik, dan ujian nasional tahun pelajaran 2009/2010. Prosesi wisuda dan pelepasan yang bersejarah itu mengambil lokasi di Sasono Langen Budoyo, TMII, Jakarta Timur, hari Kamis, 20 Jumadil Akhir 1431 H., bertepatan dengan 3 Juni 2010 M.

 

Sejumlah tamu undangan hadir dalam acara tersebut, mulai dari Pengurus Harian Yayasan, para Ketua Majelis di lingkungan yayasan, para pimpinan Unit Kerja Sekolah mulai dari TK, SD, SMA, SMK, STIE-KN, SKTIP-KN, Pengurus Komite, Pengurus OSIS, para orang tua, guru, karyawan, dan beberapa peserta didik sebagai panitia dan pengisi acara. Acara tepat dimulai pukul 08.00 dan berakhir pukul 12.45 WIB.

 

Dalam kesempatan tersebut, beberapa sambutan telah disampaikan, yaitu:

  1. Ketua Panitia Wisuda & Pelepasan, Bapak Ridwan, S.Pd.
  2. Perwakilan Kelas IX Angkatan ke-39, oleh Siti Hafilah.
  3. Perwakilan Kelas VIII merangkap Ketua OSIS, oleh Abdul Kadir.
  4. Kepala SMP Islam PB. Soedirman, Bapak Nur Alam.
  5. Wakil Ketua Ketua Komite Sekolah, Bapak Drs. H. Agus Riyanto.
  6. Ketua Pengurus Harian Yayasan, Bapak. H. Chalid Karim Leo, SH., M.Sc., M.Pd.
  7. Perwakilan Orang Tua Peserta Didik, Bapak Dr. H. A bdul Wahid, M.Sc.

 

Dalam sambutannya, Ketua Pengurus Harian menekankan, “Agar prestasi yang sudah dicapai selama ini oleh SMP Islam PB. Soedirman terus dipertahankan dan ditingkatkan lagi, baik kualitas maupun kuantitasnya.” Begitu pula, Kepala Sekolah, banyak memberikan bekal nasihat kepada peserta didiknya, yang mulai tanggal 12 Juli 2010 besok, mereka akan memasuki jenjang pendidikan atas (SMA), “Hanya dengan bekal kesungguhan dalam belajar, dengan tetap menjaga sikap jujur, percaya diri, dan selalu dekat dengan Allah, kalian pasti akan memperoleh sukses dalam meraih cita-cita kelak.” Ucap pak Nur, sangat serius.

 

Tidak kalah pentingnya, perwakilan dari orang tua juga berpesan, “Bekal pendidikan yang anak-anak kami peroleh di sekolah ini sangat bermanfaat untuk masa depan mereka, karena pendidikan si sekolah ini sangat sarat dengan muatan-muatan yang berimbang antara kecerdasan intelektual, sosial dan moral-spiritual, juga aktivitas lainnya yang sangat padat dan bermanfaat untuk bekal hidup mereka.” Demikian, nasihat Bapak Dr. H. A bdul Wahid, M.Sc., yang memiliki dua puteri kembar yang akan diwisuda hari itu. Begitu jua Wakil Ketua Komite Sekolah, memberikan ucapan terima kasih atas kerja keras guru dan karyawan di sekolah ini, sehingga sekolah ini sudah memiliki sister school dan sertifikasi ISO, namun beliau berpesan, “Bapak dan Ibu guru jangan terlena dengan sister school dan sertifikasi ISO yang diperoleh, namun terus tingkatkan layanan pendidikan yang prima kepada seluruh stakeholder, agar sekolah ini makin ke depan makin diminati oleh masyarakat.” Ucap, pak H. Agus Riyanto, yang juga memiliki dua anak laki-laki, yang sudah dan akan tamat menuntut ilmu di SMP ini.

 

Makin siang acara makin seruuu abiz….!, karena sejumlah kebolehan talenta peserta didik dalam bidang seni ditampilkan, sehingga seluruh hadairin dibuat terpukau dan terkagum-kagum. Karena mereka menampilkan tari saman, rampak gendang, dan olah vocal di hadapan tamu undangan very perfect performance, bahkan ada yang nyeletuk, “Wah, wah, kalau begini, lama-lama bisa muncul lagi Afgan – Afgan baru dari sekolah ini.” Celetuk salah seorang tamu dari orang tua.

 

Sebagai puncak acara adalah prosesi wisuda dan pelepasan peserta didik kelas IX angkatan ke-39, siap dimulai. Satu persatu peserta didik sebanyak 243 anak mulai dari kelas IX A – IX G, dipanggil naik ke panggung. Bapak kepala sekolah mengalungkan tanda penghargaan kepada setiap peserta didik, kemudian diucakpan selamat oleh para wakil kepala sekolah dan para wali kelasnya, hingga pukul 12.30, acara baru berakhir. Selanjutnya, protokol yang dibawakan oleh 3 peserta didik kelas VIII, dengan menggunakan 3 bahasa (Arab, Inggris, dan Indonesia), memanggil bapak H. Achmadi, Lc., untuk membaca do’a penutup. Suatu pertanda seluruh acara dinyatakan telah tuntas. Selamat jalan kakak–kakak kelas IX, semoga adik-adik kalian kelas VIII nanti, siap menyusul sukses kakak–kakak, demikian harapan Bapak/Ibu guru dan Karyawan.

 

MOU dengan BEC Pare Kediri

 

Memorandum of Understanding (MoU)

SMP Islam PB. Soedirman, Jakarta dengan Basic English Course (BEC),

Pare Kediri – Jatim

 

 

 

Tepatnya hari Jum’at, 3 Juli 2009 pukul 14.20 WIB., telah ditandatangani nota kesepahaman (Memorandum of Undersatanding) antara Kepala SMP Islam PB. Soedorman, Cijantung Jakarta Timur, Drs. H. Nur Alama, MA., dengan Direktur Basic English Course (BEC), Pare Kediri, Jawa Timur, Mr. Kalend O., di Kampus BEC, Pare Kediri, dengan disaksikan oleh Wakil Bidang Kurikulum, Ibu Hj. Titi Nurmanik, S.Pd., dan dua orang guru, yaitu Ibu Hj. Sri Suhartiningsih, S.Pd., dan Hj. Mardiana, S.Pd. Nota kesepahaman tersebut akan berakhir pada bulan Desember 2012.

 

Direktur BEC, Mr. Kalend O., dalam sambutannya mengatakan, ”Kami sangat menghargai kepercayaan ini, hal ini pula lah yang akan menjadikan kami lebih semangat, karena banyak sekali amanat dari masyarakat kepada kami, padahal kami seperti ini saja,” demikian sambutan Direktur BEC, dalam kesempatan MoU tersebut. ”Di sini tidak ada yang istimewa, kami tidak punya sarana yang modern seperti di tempat lain, kami hanya punya semangat untuk membimbing anak-anak untuk berbahasa Inggris dengan mudah dan praktis,” tambahnya.

 

Menurut pak Nur Alam, ”MoU antar kedua lembaga ini menjadi penting, karena selain tuntutan terhadap penjaminan mutu bagi sekolah-sekolah penyelenggara SMP-RSBI di Indonesia, juga sebagai media bagi anak-anak kami dalam mempraktikkan kemampuan berbahasa Asing-nya di luar kelas sambil berinteraksi langsung dengan kehidupan dan aktivitas siswa di BEC Pare yang dinamis, aktraktif, dan fun ini.” Pada Januari 2010, tepatnya tanggal 16 – 19 Januari 2010, peserta didik Kelas VIII Foreign Language Class (FLC) Angkatan ke-6, akan melakukan home stay di BEC Pare dan Pondok Modern Gontor, Ponorogo Jawa Timur.

 

Kegiatan home stay peserta didik SMP Islam PB. Soedirman di BEC Pare ini, sebenarnya sudah berlangsung sejak tahun pelajaran 2000/2000. Namun baru pada tahun 2009, kerjasama ini dikuatkan dalam sebuah MoU, selengkapnya isi MoU tersebut seperti di bawah ini.

 

 

 

 

 

Basic English Course (BEC)                                     PB. Soedirman International

Pare Kediri, East Java Indonesia Islamic Junior High School

(PBS-IIJHS), Cijantung

East Jakarta, Indonesia

 

 

Memorandum of Understanding

Between

Basic English Course (BEC), Pare Kediri, East Java

and

PB. Soedirman International Islamic Junior High School (PBS-IIJHS),

East Jakarta

 

Basic English Course (BEC), Pare Kediri, East Java and PB. Soedirman

International Islamic Junior High School (PBS-IIJHS), East Jakarta, hereby agree to make sister institution relationship in order to foster friendship and cooperation between two institutions to promote mutual understanding between two institutions

 

Program Goals

1. To strengthen relationship, understanding, and appreciation between two institutions.

2. To promote greater understanding and respect of each other’s competencies in English Conversation.

3. To prepare opportunities for students and teachers to develop skills in order to enhance BEC – PBS-IIJHS relationships.

4. To support teaching and practicing English in both institutions.

5. To develop ties of friendship through regular communication.

 

Institution Activities

1. The exchange of information about curriculum, institution policy, and institution events.

2. The exchange of information about each local culture and community.

3. The exchange of teaching resources, course materials, and teaching strategies.

4. The exchange of student work, photos, student magazines/newspapers, etc to promote mutual understanding.

5. Both institutions will endeavor to maintain students, teachers, and administrators exchange programs to provide the opportunity to study and stay in the sister institution community.

 

In 2012, Basic English Course (BEC), Pare Kediri, East Java and PB. Soedirman International Islamic Junior High School (PBS-IIJHS), East Jakarta, will review this Memorandum of Understanding (MoU) to determine the future directions of this agreement.

 

 

 

 

 

-------------------------------------------             ---------------------------------------------

Mr. Kalend O.                                             Drs. H. Nur Alam, MA.

Director, Basic English Course (BEC)               Pricipal, PB. Soedirman International

Pare Kediri, East Java, Indonesia Islamic Junior High School (PBS-IIJHS),

Cijantung, East Jakarta, Indonesia.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Milad SD Islam PB. Soedirman

Milad Ke-39 SD Islam Teladan PB. Soedirman

 

Kemeriahan dan kebahagian penuh khidmat, meliputi semua Keluarga Besar Yayasan Masjid PB. Soedirman dan tamu undangan, dalam memperingati hari lahirnya (Milad) ke-39 SD Islam Teladan PB. Soedirman, Cijantung Jakarta Timur, yang puncak acaranya berlangsung hari Sabtu, 23 Januari 2010, mulai pukul 07.00 – 11.30 WIB., di halaman sekolah, yang komandani oleh Bapak Suwoto, S.Pd., yang sehari-harinya menjabat sebagai Wakil Bidang Kesiswaan di sekolah ini.

 

Acara Milad ke-39 ini menjadi lebih khusus lagi, karena dibarengi dengan penyambutan Tahun Baru Islam 1431 Hijriyyah. Menurut kepala sekolah, H. Suhardi, S.Ag., di antara tujuan acara Milad ke-39 ini adalah: Pertama, membuka peluang bagi guru dan murid untuk menunjukkan kreativitasnya. Kedua, menarik pesona calon murid baru. Ketiga, mempererat tali shilaturrahim warga sekolah. Keempat, menyemarakkan peringatan tahun baru Islam 1431H., dan Kelima, merefleksikan Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin.

 

Sejumlah acara kreatif telah dirancang oleh panitia untuk memeriahkan acara Milad ke-39 ini, yaitu: (1) Karnaval Budaya Islami, (2) Eksposisi Dinamika Kelas, (3) Talent Show, (4) Santunan Anak Yatim dan Dhu’afa’, (5) Lomba Antar Kelas, (6) Bazar Murah, dan (7) Pemilihan Guru-Guru Favorit. Semua acara yang digelar tersebut berjalan meriah dan sukses. Hal ini terukur dengan jumlah peserta bazar dan pengunjung yang tumpah ruah memadati halaman sekolah, kampus, dan parkir yayasan ini.

 

Dalam sambutannya, baik Pembina Yayasan, H. KRMH. Soerjo Wirjohadipoetro, Ketua Komite Sekolah, H. Abdul Kadir, SE., maupun Kepala Sekolah, berharap ke depan, peningkatan layanan prima dan mutu pendidikan sekolah ini kepada para stakeholder akan terus dipertahankan, juga kesiapan sekolah ini mulai tahun pelajaran 2010/2011 untuk menjadi Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI), akan dapat diwujudkan. Semoga, dengan hikmah Milad ke-39 ini, akan membawa kejayaan dan keberkahan bagi umat Islam.

Kunjungan KepSek DIY

Kunjungan Kepala – Kepala SMP Muhammadiyah

Se–Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY)

Sepuluh orang Pengurus Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah Muhammadiyah, Daerah Istimewa Yogyakarta, bersama 86 Kepala-Kepala SMP Muhammadiyah se-DIY, telah melakukan kunjungan studi banding ke SMP Islam PB. Soedirman, Cijantung Jakarta Timur, sejak pukul 07.30, hari Jum’at, 29 Januari 2010. Kunjungan tersebut dimaksudkan, “Untuk menambah wawasan dan pengalaman para kepala-kepala SMP Muhammadiyah se-DIY dalam meningkatkan mutu pendidikan di sekolah masing-masing kelak.” Demikian sambutan, salah satu pengurus persyarikatan tersebut.

 

Kedatangan rombongan para Kepala Sekolah Muhammadiyah tersebut disambut dengan penampilan rampak gendang peserta didik SMP Islam PB. Soedirman, di canopy masjid yang megah. Salah satu peserta berucap, “di Yogya saja kesenian daerah seperti ini hampir dilupakan, tapi di Jakarta ini malah dihidupkan lagi.” Tampak para tamu sangat senang melihat kebolehan peserta didik memainkan alat-alat musik, hasil perpaduan antara gamelan Jawa dan Sunda. Kedatangan mereka diterima langsung oleh Kepala SMP Islam PB. Soedirman, pak Nur Alam, yang sudah siap di depan gerbang sekolah bersama para wakil, staf, dan karyawannya.

 

Sebagaiman biasanya, dalam setiap kunjungan tamu ke sekolah ini, pihak tuan rumah selalu mengelompokkan para tamunya, agar memudahkan dalam melakukan studi fisik (sarana, adminstrasi, dialog, dll.) di lingkungan SMP Islam PB. Soedirman. Masing-masing kelompok terdiri atas 10-11 orang kepala sekolah dengan seorang guru pemandu dari tuan rumah. Khusus untuk para pengurus wilayah, mereka diterima oleh Ketua Majelis Dikdasmen Yasma PB. Soredirman, H. Agus Rukmana, M.Pd., dengan didampingi oleh kepala sekolah ini. Mereka diajak melakukan observasi keliling ke seluruh unit kerja yang ada di yayasan ini.

 

Selesai acara studi fisik di lingkungan sekolah dan yayasan, seluruh tamu diajak memasuki ruang serba guna (multi-purpose room), yang berlokasi di lantai 2 Gedung B, untuk mendengarkan presentasi dari kepala sekolah, pendalaman hasil studi fisik, tanya jawab, dan lain-lain. Dalam kesempatan ini, kedua belah pihak saling sharing sekitar pengalaman dalam mengelola pendidikan di sekolah masing-masing. Semua saling berbagi dan bertukar pengalaman, karena memang tidak pernah ada sekolah yang paling sempurna.

 

Acara diakhiri dengan penandatangan kerjasama dalam Memorandum of Understanding (MoU), antara Kepala SMP Muhammaiyah 2 Yogyakarta dengan Kepala SMP Islam PB. Soedirman, Cijantung Jakarta Timur, yang kedua-duanya sudah sama-sama menyandang label sebagai Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI), Angkatan ke III di Indonesia. Kemudian dilanjutkan dengan saling menukar plakat sekolah dan cendramata, sebagai tanda ikatan ukhuwwah Islamiyyah yang sangat penuh makna. Tepat pukul 11.30 Wib., tamu rombongan melanjutkan perjalanannya kembali ke Yogyakarta via jalur selatan, dengan menggunakan 2 bus AC. Selamat jalan teman-teman senasib dan seperjuangan, Fi Amanillahi wa Barakatillah.

 

Kunjungan KepSek MKKS Ciamis

Kunjungan Kepala – Kepala SMP Negeri & Swasta

Dari MKKS SMP Komisariat III Kabupaten Ciamis, Jawa Barat

 

 

Tepatnya hari Sabtu dinihari, 13 Februari 2010, sebanyak 43 Kepala SMP Negeri/Swasta dari Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, telah bertandang untuk bershilaturrahim ke SMP Islam PB. Soedirman, Cijantung Jakarta Timur. Kedatangan para tamu kepala-kepala sekolah yang terhormat ini bertujuan, “Dalam rangka meningkatkan kapasitas kinerja kepala sekolah melalui program bermutu MKKS SMP Negeri/Swasta Kabupaten Ciamis, Jawa Barat.” Demikian, ucap Bapak Drs. H. Sudjatma, mewakili rombongan tersebut, yang juga sebagai Kepala SMP Negeri 5 di Kabupaten Ciamis.

 

Rombongan para Kepala Sekolah Negeri/Swasta dari Ciamis tersebut, sudah tiba di kampus Yayasan Masjid PB. Soedirman, Cijantung Jakarta Timur, 1 jam sebelum adzan shubuh. Mereka diterima langsung oleh Kepala SMP Islam PB. Soedirman, pak Nur Alam, yang sudah siap bermalam di sekolah bersama para wakil dan stafnya. Sambil menunggu waktu shalat shubuh datang, seluruh tamu sudah melakukan bersih diri di kamar-kamar mandi masjid dan sekolah, yang sudah disiapkan oleh tuan rumah. Selesai shalat shubuh, mereka sudah berpakaian rapi, kemudian mereka diajak menyantap sarapan pagi di ruang Aula sekolah.

 

Tepat pukul 06.30 pagi, acara sudah dimulai dengan pengelompokan peserta, untuk memudahkan dalam melakukan studi fisik (sarana, adminstrasi, dialog, dll.) di lingkungan SMP Islam PB. Soedirman. Masing-masing kelompok terdiri atas 7 orang kepala sekolah dengan seorang guru pemandu dari tuan rumah. Acara tersebut berlangsung selama 90 menit, kemudian seluruh tamu diajak memasuki ruang serba guna (multi-purpose room), yang berlokasi di lantai 2 Gedung B. Acara inti inti di ruang ini adalah presentasi dari kepala sekolah, pendalaman hasil studi fisik, tanya jawab, dan lain-lain.

 

Acara inti di ruang serba guna berlangsung selama 2 jam, dan tepat pukul 10.00 Wib., seluruh rangkaian acara kunjungan sudah selesai. Berbagai hal dalam sharing of experiences tentang pengelolaan pendidikan antara para tamu dan tuan rumah berlangsung sangat akrab penuh kekeluargaan. Tidak ada pihak yang paling hebat, baik tamu maupun tuan rumah. Semua pihak dalam kesempatan tersebut, sama-sama saling diuntungkan dan menguntungkan (win-win solution). Acara diakhiri dengan saling menukar plakat sekolah dan cendramata, sebagai tanda ikatan batiniyah yang sangat mendalam, yang tidak boleh berhenti sampai kapan pun. Tamu rombongan melanjutkan perjalanannya, untuk refreshing sejenak di Taman Impian Jaya Ancol. Kemudian malam harinya mereka sudah kembali ke kota asal mereka, kota Ciamis, Jawa Barat.

 

Komitmen Pendidik

KOMITMEN PENDIDIK & Tenaga Kependidikan

SMP ISLAM PB. SOEDIRMAN, JAKARTA TIMUR

Tahun pelajaran 2009/2010

 

 

Komitmen kami sebagai pendidik dan tenaga kependidikan di SMP Islam PB. Soedirman, Cijantung Jakarta Timur, tahun pelajaran 2009/2010, adalah:

 

(a) Sukses Ujian Nasional (UN),

(b) Sukses Ulangan Kenaikan Kelas (UKK),

(c) Sukses PPDB 2010/2011,

(d) Sukses Mewujudkan Sertifikasi SSM ISO 9001:2008, dan

(e) Sukses Mewujudkan Sister School atau Twinning School dengan

Sekolah-Sekolah Sederajat di luar negeri;

 

Atas dasar komitmen tersebut, Bapak/Ibu Guru mata pelajaran, Wali Kelas, dan Guru BK, melakukan hal-hal berikut:

 

  1. mendata, mengkoordinasikan, melayani, dan memantau peserta didik yang mempunyai niali belum memenuhi KKM (remedial) hingga tuntas;
  2. merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi/menilai hasil remedial tersebut sesuai dengan mekanisme yang benar (on the right track);
  3. mendata, mengkoordinasikan, melayani, dan memantau peserta didik yang mempunyai niali belum memenuhi SKL UN 2009/2010 hingga tuntas;
  4. melaporkan, memovisitasi, dan menyelesaikan peserta didik yang mempunyai masalah dengan akademik atau pelanggaran tata tertib sekolah;
  5. mendata, mengkoordinasikan, melayani, dan memantau peserta didik yang belum kompeten dalam membaca Al-Qur’an (termasuk membaca Al-Qur’an di rumah), bukan menghafalkannya, meskipun hal itu penting;
  6. melakukan dan membimbing peserta didik dalam shalat dhuha dan dzuhur/’ashar berjamaah di masjid (baik wali kelas, guru & Karyawan). Mereka tidak meninggalkan sekolah sebelum shalat ’ashar berjamaah di masjid, meskipun sudah selesai jam mengajar;
  7. khusus bagi Wali Kelas IX, membantu dan melayani peserta didiknya yang memerlukan administrasi dan legalisasi untuk melanjutkan sekolah;
  8. melaksanakan dengan sebaik-baiknya dan melaporkan hasil-hasilnya, apabila mendapat surat perintah tugas dari Kepala/Wakil Kepala Sekolah;
  9. memberikan motivasi edukatif kepada seluruh peserta didik secara terus menerus, bahwa mereka sesungguhnya telah dianugerahkan Allah SWT. potensi diri yang luar biasa. Tugas pendidik adalah bagaimana cara mengoptimalkannya dengan sungguh-sungguh dan kerja cerdas.

 

Untuk sukses mempersiapan Ujian Nasional (UN) dan Ulangan Kenaikan Kelas (UKK) tahun pelajaran 2009/2010, maka Bapak/Ibu Guru, Wali Kelas, dan Guru BK, melaksanakan 10 Kompetensi Pendidik, yaitu:

 

1. Penguasaan Bahan Ajar/Materi Pelajaran;

2. Pengelolaan Proses Belajar Mengajar;

3. Pengelolaan Kelas;

4. Penggunaan Media dan Sumber Belajar;

5. Penguasaan Ilmu Pendidikan dan Pembelajaran;

6. Penguasaan Interaksi Pembelajaran;

7. Penguasaan Penilain Prestasi Belajar Siswa;

8. Penguasaan Teknik Bimbingan dan Penyuluhan Belajar;

9. Penguasaan Administrasi Pendidikan dan Pembelajaran;

10. Penguasaan Prinsip-Prinsip Penelitian Pendidikan untuk Meningkatkan

Mutu pembelajaran;

 

Kami sangat yakin, bahwa dampak langsung dari Sukses Ujian Nasional (UN) dan Ulangan Kenaikan Kelas (UKK) tahun pelajaran 2009/2010 di sekolah ini, Insya Allah akan sukses pula pada proses Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tahun pelajaran 2010/2011.

 

Untuk sukses mempersiapan dan mewujudkan Sertifikasi Sistem Manajemen Mutu (SMM) ISO 9001:2008, Bapak/Ibu Guru, Wali Kelas, Guru BK, dan Karyawan, harus melaksanakan 13 Disiplin Kerja Pendidik dan Tenaga Kependidikan , yaitu:

 

1.   Ketepatan Waktu;

2.   Kreativitas Kerja;

3.   Pemeliharaan Sarana dan Prasarana Kerja;

4.   Taat Sistem dan Prosedur Kerja;

5.   Efisiensi Kerja (terkait waktu);

6.   Efektivitas Kerja (terkait sasaran dan hasil);

7.   Toleransi Kerja;

8. Pencurahan Kompetensi Kerja;

9.   Tanggung Jawab Kerja;

  1. Ketuntasan Kerja;
  2. Prilaku Kerja Konsisten;
  3. Laporan Hasil Kerja; dan
  4. Ketekunan, Kerajinan, dan Kejujuran dalam Kerja.

 

Selanjutnya, untuk sukses mewujudkan Sister School atau Twinning School dengan sekolah-sekolah sederajat di luar negeri, kami telah lakukan proses pendekatan via email, bekerjasama dengan Direktorat pada Kementerian Pendidikan Nasional RI, dan Agent and Marketing of Australian Institute of International Understanding (AIIU,) di negara Australia. Alhamdulillah, pada tanggal 27 – 29 April 2010, tiga sekolah sederajat di Victoria, Melbourne – Australia, bersedia bekerjasama menandatangani MoU dengan SMP Islam PB. Soedirman, Cijantung Jakarta Timur, Indonesia. (Afa.)

Kegiatan MMKS

Kegiatan Pembinaan Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS)

Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta,

 

 

Dalam rangka meningkatkan profesionalisme Kepala Sekolah dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya sehari-hari di sekolah, Bidang SMP/SMA Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta melaksanakan kegiatan Pembinaan Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) di wilayahnya. MKKS sebagai forum komunikasi profesional, diharapkan dapat berfungsi juga sebagai agen perubahan (agent of change) dalam melakukan berbagai inovasi pendidikan di sekolah.

 

Untuk itu peran dan fungsi MKKS perlu dimantapkan dan ditingkatkan, terutama dalam mengadopsi dan mengembangkan inovasi model pengelolaan sekolah dan model pembelajaran yang efektif. ”Dengan peningkatan peran dan fungsinya, MKKS diharapkan dapat mempercepat pelaksanaan peningkatan mutu pendidikan, khususnya mutu lulusan SMP Negeri/Swasta di provinsi DKI Jakarta,” demikian ucapan Kabid SMP/SMA, Dr. H. Amsani, M. Pd., ketika membuka acara ini.

 

 

Kegiatan ini berlangsung sejak tanggal 12 – 14 Nopember 2009, bertempat di Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan (LPMP), DKI Jakarta, di Jalan Nangka, Pasar Minggu Jakarta Selatan, dengan menghadirkan banyak narasumber, di antaranya dari unsur Dinas Pendidikan DKI Jakarta dan dari Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan (LPMP) DKI Jakarta. Peserta kegiatan ini sebanyak 312 kepala sekolah, terdiri dari 287 Kepala SMP Negeri dan 25 Kepala SMP Swasta, sebagai perwakilan. Kepala SMP Islam PB. Soedirman menjadi salah peserta dari 25 Kepala SMP Swasta, di DKI jakarta.

 

Di antara materi yang disajikan oleh para narasumber adalah:

 

  1. Kebijakan Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta, oleh Kabid SMP/SMA, Dr. H. Amsani, M. Pd.
  2. Manajemen Sekolah, oleh Kasi Manajamen SMP/SMA, Drs. H. Lardi, MM.
  3. Implementasi KTSP, oleh Kasi Kurikulum, Drs. H. Budiana, M.Si.
  4. Etos Kerja Kepala Sekolah, Oleh Kepala LPMP, Jakarta, Drs. H. Abd. Muid, M.Si.
  5. Leadership dan Enterpreunership Kepala Sekolah, Oleh Widyaiswara LPMP, Jakarta, dan
  6. Penelitian Tindakan Sekolah (PTS) oleh Widyaiswara LPMP, Jakarta.

 

Dalam acara penutupan kegiatan ini, Kepala Seksi Manajemen Dinas Pendidikan DKI Jakarta, Drs. H. Lardi, MM., mengharapkan agar seluruh kepala sekolah sebagai peserta musyawaah, dapat mengimplementasikan materi-materi yang disampaikan oleh para narasumber dalam melaksanakan tugas sehari-hari di sekolah. Beliau juga menitipkan pesan, agar prestasi akademik dan non-akademik peserta didik SMP Negeri/Swasta di DKI Jakarta, dapat ditingkatkan mutunya dari tahun ke tahun.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Home Stay

Home Stay

Anak – Anak Aksel Angkatan IX dan X

di Kecamatan Parakan Salak, Sukabumi, Jawa Barat

 

 

 

Untuk yang kelima kali, anak-anak Aksel SMP Islam PB. Soedirman, Cijantung Jakarta Timur, akan menyelenggarakan Home Stay, yaitu tinggal di rumah-rumah penduduk desa selama beberapa hari. Di sana mereka akan melakukan berbagai aktivitas ilmiah, sosial, religius, dan interaksi positif dengan masyarakat desa. Inti dari kegiatan ini adalah menanamkan sikap peduli peserta didik terhadap kehidupan masyarakat desa yang sangat sederhana, dengan tetap melakukan kegiatan-kegiatan ilmiah, yang pada akhirnya akan melahirkan sikap toleran dan peduli terhadap sesama dan lingkungan.

 

Home Stay kali ini akan mengambil lokasi di Kp. Citiis, Desa Bojong Nangka, salah satu desa dari enam desa yang berada dalam wilayah hukum Kecamatan Parakan Salak, Sukabumi. Inilah desa-desa binaan SMP Islam PB. Soedirman, yang sudah terjalin baik selama tujuh tahun silam, tepatnya sejak tahun 2002. Kegiatan ini dilaksanakan selama 4 hari 3 malam, mulai tanggal 25 – 28 Desember 2009, bekerjasama dengan tokoh masyarakat setempat dan PT. ILNA Training Center, Bogor.

 

Selama mengikuti kegiatan ini, anak – anak Aksel kelas VII dan IX, yang berjumlah 36 peserta didik, akan menempati 13 rumah penduduk, masing-masing rumah akan dihuni oleh 3 peserta didik. Jadwal kegiatannya dikemas dengan sangat aktraktif dan fun, baik indoor maupun outdoor-nya. Termasuk kegiatan presentasi kelompok dari hasil observasi lapangan dan bazar gratis buat para penduduk desa yang kebanyakan hidup sangat sangat sederhana bahkan pas-pasan.

 

Ada kebiasaan unik, yang biasa dilakukan dalam setiap kegiatan home stay ini, yaitu selama anak-anak Aksel berada di rumah-rumah penduduk, mereka harus mengikuti semua aktivitas yang dilakukan oleh anggota keluarga tempat mereka tinggal. Mulai dari shalat berjamaah, tadarus Al-Qur’an, ngobrol-ngobrol ringan sambil nonton tv, makan bareng, cuci piring, mengepel dan menyapu rumah, menata pakaian, sampai ke kebun atau sawah bersama-bersama.

 

Kegiatan ini tentunya melibatkan beberapa guru, wali kelas, dan wakil orang tua kelas (WOTK). Mereka bertugas mendampingi dan mengawasi saja, sedangkan kakak-kakak dari PT. ILNA TC (yang mayoritas alumni IPB) yang mengendalikan semua acara ini, mulai dari perijinan ke Kepala Desa sampai ke hal-hal kecil lainnya. Agar acara ini berjalan lancar dan sukses, anak-anakku harus menyiapkan mental dan fisik yang baik, juga perlengkapan-perlengkapan lainnya yang cukup, termasuk obat-obatan pribadi kalian.

 

Terasa sangat singkat sekali acara ini bagi anak-anak kami, karena mereka tinggal di sana hanya beberapa hari saja. Namun, akan diyakini akan menorehkan suatu kenangan terindah yang sangat mendalam selama hidup mereka, karena mereka akan menikmati sekali suasana kehidupan masyarakat desa yang rata-rata sebagai petani, mereka sangat ramah, bersahaja, religius, memiliki semangat gotong royong, tenang, nyaman dan sejuk. Anak-anakku, selamat mengikuti acara Home Stay ini yang tinggal beberapa hari lagi ke depan, Insya Allah. (afa)

 

Checklist Kepala Sekolah

PANGLIMA BESAR SOEDIRMAN

INTERNATIONAL ISLAMIC JUNIOR HIGH SCHOOL (IIJHS)

EAST JAKARTA – INDONESIA

CHOOSE TRUE OR FALSE BY TICKING A CHECKLIST (V)

Name: ……………………………………………………………..                                       Date: ………………… 

No.

Statements

True

False

1

I think more about immediate results than I do about mentoring students.

 

 

2

Students will be motivated if you appreciate them every time.

 

 

3

It’s nice to know about student’s long-term goals, but not necessary to get the job done.

 

 

4

If you have a consistent recognition system that rewards every student in the same way, then that is enough.

 

 

5

The best way to build a class team is to set a group goal that is highly challenging, maybe even “crazy.”

 

 

6

My greatest pleasure in my job comes from making the teaching and learning process effective.

 

 

7

I spend more of my time and attention on my weaker performers than I do on my top performers, who basically take care of themselves.

 

 

8

It’s better not to know anything about the personal lives and interests of the students who report to me.

 

 

9

Sometimes, It’s almost as if I’m a “collector of students” because I’m always recruiting and getting to know new students.

 

 

10

I like to surround myself with students who are better at what they do than I am.

 

 

11

I am a lifelong education of what makes other students tick.

 

 

12

Students talk about “mission” too much – it’s best just to let them do their work and not try to bring values into the conversation.

 

 

13

It’s my job to know everything that goes on in my area.

 

 

14

I pay close attention to how and where I spend my time, because the priorities I put into action are the ones that other students will observe and follow.

 

 

15

I’ve worked hard to get along with or understand students who are very different from me.

 

 

 

Kranggan, 27 Juli 2009

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


PANGLIMA BESAR SOEDIRMAN

INTERNATIONAL ISLAMIC JUNIOR HIGH SCHOOL (IIJHS)

EAST JAKARTA – INDONESIA

CHOOSE TRUE OR FALSE BY TICKING A CHECKLIST (V)

Name: ………………………………………………                                                         Date: ………………… 

No.

Statements

True

False

1

I think more about immediate results than I do about mentoring others.

-

V

2

People will be motivated if you pay them enough.

V

-

3

It’s nice to know about people’s long-term goals, but not necessary to get the job done.

-

V

4

If you have a consistent recognition system that rewards everyone in the same way, then that is enough.

-

V

5

The best way to build a team is to set a group goal that is highly challenging, maybe even “crazy.”

V

-

6

My greatest pleasure in my job comes from making the work process effective.

-

V

7

I spend more of my time and attention on my weaker performers than I do on my top performers, who basically take care of themselves.

 

-

 

V

8

It’s better not to know anything about the personal lives and interests of the people who report to me.

-

V

9

Sometimes, It’s almost as if I’m a “collector of people” because I’m always recruiting and getting to know new people.

 

V

 

-

10

I like to surround myself with people who are better at what they do than I am.

V

-

11

I am a lifelong education of what makes other people tick.

V

-

12

People talk about “mission” too much – it’s best just to let people do their work and not try to bring values into the conversation.

 

-

 

V

13

It’s my job to know everything that goes on in my area.

-

V

14

I pay close attention to how and where I spend my time, because the priorities I put into action are the ones that other people will observe and follow.

 

V

 

-

15

I’ve worked hard to get along with or understand people who are very different from me.

V

-

 

Kranggan, 27 Juli 2009

sertifikasi

GURU, PROFESI, DAN SERTIFIKASI

(Sebuah Refleksi Pengabdian Pendidik di Era Sertifikasi)

Pendahuluan

Guru disebut sebagai tenaga profesional, sebagaimana halnya profesi dokter, insinyur, pilot, pengusaha dan seterusnya. Sesungguhnya secara formal, hal tersebut sudah diamanatkan dalam UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (SPN), UU Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, dan PP Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (SNP), bahwa keberadaan guru disebut sebagai tenaga profesional. Ditegaskan pula, bahwa profesi guru adalah suatu jabatan yang memerlukan keahlian khusus sebagai guru dan tidak dapat dilakukan oleh sembarang orang di luar bidang pendidikan. Menurut Mc. Lendon (1998), “Teacher is a professional person who conducts classes.” Sedangkan menurut C. Morris, “Teachers are those persons who consciously direct the experiences and behavior of an individual so that education takes places.”

 

Prof. Suyanto (2009), menegaskan pula bahwa, “Profesionalisme guru merupakan atribut dan kompetensi seseoang yang diperoleh dari suatu proses pendidikan yang secara sengaja dirancang khusus, agar orang tersebut menguasai filsafat dan teori dalam menjalankan praktik pekerjaannya, menguasai ketrampilan yang didasarkan atas landasan filsafat dan teori itu, memiliki kecintaan terhadap pekerjaannya, memiliki etika yang diyakini dan dipegang teguh dalam melaksanakan dan memecahkan berbagai masalah yang dihadapi dalam pekerjaannya itu.” Pendapat tersebut ditegaskan juga dalam Dearing Report (1997), “Great teachers create a common ground of intellectual commitment. They stimulate active not passive learning and encourage students to be critical, creative thinkers with the capacity to go on learning after their college days are over.”

 

Guru merupakan ujung tombak peningkatan mutu pendidikan. Guru memiliki peran yang sangat sentral dan stategis dalam peningkatan mutu pendidikan. Maka, meskipun gedung, ruang kelas, laboratorium, perpustakaan, dan media pembelajaran disediakan dan dibangun secara spektakuler, tanpa guru yang terstandar kualifikasi akademik, kompeten, dan profesional, semua itu hanya omong kosong dan tidak akan bermakna apa-apa. Jadi guru yang profesional adalah orang yang memiliki kemampuan merancang program pembelajaran, mampu menata dan mengelola kelas, agar peserta didik dapat belajar dan pada akhirnya dapat mencapai tingkat kedewasaan sebagai tujuan akhir dari proses pendidikan.

 

Menghadirkan Guru yang Profesional

Setiap kita pasti setuju dengan upaya peningkatan profesionalisme guru. Karena, guru yang profesional diharapkan mampu meningkatkan mutu pendidikan di tanah air, yang selama ini mutu pendidikan dirasakan masih relatif rendah, meskipun, secara individual dalam berbagai event olimpiade, prestasi akademik peserta didik Indonesia sangat membanggakan. Ekspektasi masyarakat terhadap peningkatan mutu pendidikan di tanah air tidak akan bermakna apa-apa, jika para pemangku kepentingan (stakeholders) dunia pendidikan, tidak atau belum melakukan langkah-lankah inovatif yang menuju pada perubahan mutu pendidikan yang lebih baik.

 

Untuk mewujudkan ‘dream’ (guru profesional) yang mulia itu, perlu langkah-langkah inovatif, di antaranya: (1) perencanaan yang baik dan matang agar tidak menemui kegagalan, (2) koordinasi dan kerjasama sinergis antar pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah, guru, orang tua, dan masyarakat/yayasan, (3) dukungan semua pihak terhadap sumber dana, sarana dan prasarana untuk mewujudkan profesionalisme guru, dan (4) konsistensi, konsekuensi, serta komitmen yang tinggi para pemangku kepentingan untuk peningkatan profesionalisme guru. Beberapa cara yang dapat dilakukan, agar guru menjadi lebih profesional, yaitu:

  1. Pendidikan guru yang lebih profesional. Beberapa hal yang perlu diupayakan dalam meningkatkan profesionalitas diri seorang guru, yaitu:
    1. rekrutmen dan seleksi guru harus dilakukan secara ketat, termasuk tingkat intelektualitas dan integritasnya.
    2. minat calon guru harus kuat untuk berprofesi sebagai guru. Sebaiknya, hanya guru yang berminat kuat saja yang boleh mengikuti proses sertifikasi guru selanjutnya.
    3. memiliki kemampuan dan kemauan keras untuk meningkatkan kompetensi dan ketrampilan dirinya dari hari ke hari.
    4. Memiliki kesungguhan untuk berkreasi, berpikir kritis, dan mengekspresikan ide serta gagasannya.
    5. sanggup melakukan sharing dengan sesama teman guru dan belajar bersama, sehingga terwujud peningkatan kualitas diri yang berkelanjutan.

 

  1. Pendampingan guru selama melakukan proses pembelajaran. Guru dibantu untuk terus belajar, mengembangkan profesi, dan mengevaluasi kinerjanya. Selengkapnya dijelaskan berikut ini:
    1. disediakan waktu sehari dalam seminggu untuk dijadikan hari belajar. Guru-guru tetap datang ke sekolah dengan melakukan proses di laboratorium, di perpustakaan, mempersiakan bahan ajar, melakukan penelitian tindakan kelas, dan berdiskusi dengan sesama guru.
    2. dibantu untuk melakukan refleksi terhadap kinerjanya secraa terjadwal dan terarah, apakah sudah baik atau masih kurang.
    3. salah satu hal penting dalam merefleksi diri sendiri atau bersama adalah apakah mereka memang masih ingin menjadi guru yang profesional.
    4. diadakan pelatihan tentang beberapa hal yang dirasakan masih kurang dalam pengalaman mengajar. Penyegaran dalam bidang ilmu, pembelajaran, dan pengembangan konsepsi atau teori perlu dilakukan.
    5. dicobakan untuk dilakukan penelitian tindakan kelas, agar guru mengetahui apa yang masih kurang dan perlu perbaikan dalam praktik di kelas.
    6. didukung adanya pengembangan musyawarah guru mata pelajaran, agar terjadi suasana take and give sesama guru, dan
    7. didukung penuh oleh dinas atau yayasan, agar guru menjadi lebih kreatif dan inovatif dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya.

 

  1. Kesejahteraan Hidup Guru

Salah satu komponen penting dalam upaya meningkatkan profesionalisme guru adalah masalah kesejahteraan hidup guru. Ketika kesejahteraan guru sangat rendah, tidak cukup untuk hidup mereka dan keluarganya secara layak, maka akan sangat mempengaruhi kinerja guru, yang berdampak pada degradasi mutu pendidikan di sekolah. Namun sesungguhnya, jika guru telah memiliki komitmen yang kuat untuk menjadi guru profesional, maka semangat yang dikedepankan dalam menjalankan tugas sehari-hari adalah (1) kerja ikhlas, (2) kerja cerdas, (3) kerja keras, (4) kerja tuntas, dan (5) kerja berkualitas. Masalah kesejahteraan sejatinya, akan datang mengalir dengan sendiri.

Sertifikasi untuk Menjadi Guru Profesional

 

Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Profesional adalah pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan oleh seseorang dan menjadi sumber penghasilan kehidupan yang memerlukan keahlian, kemahiran, dan kecakapan yang memenuhi standar mutu atau norma tertentu, serta memerlukan pendidikan profesi.

 

Untuk membuktikan bahwa guru sebagai pekerjaan profesional, maka syarat pokok pekerjaan profesional harus dipenuhi. Menurut Sanjaya (2005), ”Dalam rangka memperoleh profesionalisme guru, hal yang dujikan dalam sertifikasi adalah kompetensi guru. Kompetensi merupakan kebulatan penguasaan pengetahuan, ketrampilan, dan sikap yang ditampilkan melalui unjuk kerja.” Pada sertifikasi guru dalam jabatan, uji kompetensi terhadap keempat kompetensi guru (pedagogik, kepribadian, profesional, dan sosial) dilakukan dalam bentuk portofolio yang dirahkan pada sepuluh komponen.

 

Dalam Permendiknas Nomor 18 Tahun 2007, disebutkan bahwa sertifikasi guru dalam jabatan dilaksanakan melalui uji kompetensi dalam bentuk penilaian portofolio, yaitu penilaian terhadap sejumlah dokumen yang mencerminkan kompetensi guru, dengan mencakup sepuluh komponen, yaitu:

 

  1. kualifikasi akademik,
  2. pendidikan dan pelatihan,
  3. pengalaman mengajar,
  4. perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran,
  5. penilaian dari atasan dan pengawas,
  6. prestasi akademik,
  7. karya pengembangan profesi,
  8. keikutsertaan dalam forum ilmiah,
  9. pengalaman organisasi di bidang pendidikan dan sosial, serta

10.  penghargaan yang relevan dengan bidang pendidikan.

 

Jika kesepuluh komponen tersebut dapat terpenuhi secara objektif dan akuntabel dengan mencapai skor minimal 850 (57%) dari total skor maksimum 1500, maka guru tersebut dapat dipastikan dan berhak menyandang predikat sebagai guru profesional, dengan sejumlah hak dan fasilitas yang akan melekat dengan jabatannya.

 

Sebagai indikator bahwa guru dapat dikatakan profesional dalam melaksankan tugas pokok dan fungsinya adalah apabila guru itu mampu dan mau:

  1. membangkitkan perhatian peserta didik pada materi pelajaran yang diberikan dan dapat memilih serta menggunakan berbagai media dan sumber belajar yang bervariasi.
  2. membangkitkan minat peserta didik untuk aktif dalam berpikir dan mencari serta menemukan sendiri pengetahuan.
  3. membuat urutan (sequence) dalam pemberian pelajaran dan penyesuaiannya dengan usia dan perkembangan peserta didik.
  4. menghubungkan pelajaran yang akan diberikan dengan pengetahuan yang telah dimiliki (apersepsi), agar memudahkan peserta didik dalam memahami pelajaran yang baru.
  5. melakukan repitisi, yaitu menjelaskan pelajaran dengan melakukan pengulangan-pengulangan, agar menjadi lebih jelas pemahamannya.
  6. melakukan korelasi mata pelajaran dengan melakukan praktik nyata dalam kehidupan sehari-hari.
  7. menjaga konsentrasi peserta didik, dengan memberikan kesempatan berupa pengalaman secara langsung, mengamati, mengeksplorasi, meneliti, dan menyimpulkan sendiri pengetahuan yang diperolehnya.
  8. mengembangkan sikap peserta didik dalam membangun hubungan sosial, baik di dalam maupun di luar kelas.
  9. menemukenali dan mendalami perbedaan peserta didik secara individual, agar dapat memberikan layanan pendidikan yang optimal kepada mereka sesuai dengan perbedaannya tersebut.

 

Dari kesembilan hal penting tersebut di atas, perlu diberikan penekanan (stressing) dalam konteks proses pembelajaran di kelas, khususnya dalam kegiatan inti pembelajaran, yaitu (1) Eksplorasi, (2) Elaborasi, dan (3) konfirmasi. Dengan memberikan penekanan yang intens pada tiga hal tersebut, diharapkan pemahaman dan target serap peserta didik dalam setiap pokok/sub pokok bahasan dapat dioptimalkan.

 

Simpulan

Dari uraian tersebut di atas, maka dapat disimpulkan hal-hal berikut ini:

  1. bahwa guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.
  2. bahwa profesional adalah adalah pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan oleh seseorang dan menjadi sumber penghasilan kehidupan yang memerlukan keahlian, kemahiran, dan kecakapan yang memenuhi standar mutu atau norma tertentu, serta memerlukan pendidikan profesi.
  3. bahwa pada pelaksanaan sertifikasi guru dalam jabatan, uji kompetensi terhadap keempat kompetensi guru (pedagogik, kepribadian, profesional, dan sosial) dilakukan dalam bentuk portofolio yang dirahkan pada sepuluh komponen, dan
  4. bahwa untuk meningkatkan mutu pendidikan di sekolah, sangat diperlukan sosok pendidik yang kompeten dan profesional, di samping sumber-sumber daya pendidikan lainnya. Juga tidak kalah pentingnya, adalah guru-guru yang mau bekerja dan mendidik dengan ikhlas, cerdas, keras, tuntas, dan berkualitas. (Afa.)

 

Sumber Bacaan:

Undang-Undang Republik Indonesia, Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem

Pendidikan Nasional (SPN).

 

Undang-Undang Republik Indonesia, Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan

Dosen.

 

Peraturan Pemerintah, Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan

(SNP).

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional, Nomor 18 Tahun 2007 tentang Sertifikasi

Bagi Guru Dalam Jabatan.

 

B. Uno, Hamzah (2007). Profesi Kependidikan, Problem, Solusi, dan Reformasi

Pendidikan di Indonesia, Jakarta: PT. Bumi Aksara.

 

Muslich, Mansur (2007). Sertifikasi Guru Menuju Profesionalisme Pendidik, Jakarta:

PT. Bumi Akasara.

 

Suparno, Paul. (2009). Pengembangan Profesionalisme Guru: Guru dan Mutu

Pendidikan, Jakarta: PT. UHAMKA Press.

 

 

 

Kesudirmanan


KE-SOEDIRMAN-NAN

(KARAKTER DAN BUDAYA SEKOLAH YANG AMAN, NYAMAN,

MENYENANGKAN, MENANTANG, DAN BERMUTU

DI SMP ISLAM PB. SOEDIRMAN)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


YAYASAN MASJID PANGLIMA BESAR SOEDIRMAN

SEKOLAH MENENGAH PERTAMA ISLAM (SMP ISLAM) PB. SOEDIRMAN

Sebagai RINTISAN SEKOLAH BERTARAF INTERNASIONAL (RSBI)

Jl. Raya Bogor Km. 24, Cijantung Jakarta Timur, telp. (021) 8400387 (Ext. 118) Faks. (021) 8410364

www.sltpsoedirman-jkt.sch.id    email: yasma@sltpsoedirman-jkt.sch.id

2010


NUR ALAM

KE-SOEDIRMAN-NAN

(KARAKTER DAN BUDAYA SEKOLAH YANG AMAN, NYAMAN,

MENYENANGKAN, MENANTANG, DAN BERMUTU

DI SMP ISLAM PB. SOEDIRMAN)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


YAYASAN MASJID PANGLIMA BESAR SOEDIRMAN

SEKOLAH MENENGAH PERTAMA ISLAM (SMP ISLAM) PB. SOEDIRMAN

Sebagai RINTISAN SEKOLAH BERTARAF INTERNASIONAL (RSBI)

Jl. Raya Bogor Km. 24, Cijantung Jakarta Timur, telp. (021) 8400387 (Ext. 118) Faks. (021) 8410364

www.sltpsoedirman-jkt.sch.id    email: yasma@sltpsoedirman-jkt.sch.id


KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmanirrahim,

 

Sejak memasuki sekolah di kelas VII, seluruh peserta didik baru sudah dibekali dengan kegiatan Masa Orientasi Peserta Didik (MOPD), sebagai langkah awal mengenal lingkungan sekolah, karakter dan budayanya sekaligus. Karena dengan karakter dan budaya sekolah yang kelak sudah tertanam di hati para peserta didik di SMP Islam PB. Soedirman ini, hampir bisa dikatakan bahwa sembilan puluh sembilan persen (99%) sekolah ini akan jauh dari narkoba, minuman keras, tawuran antar pelajar, dan ’penyakit’ kenakalan pelajar lainnya.

 

Alumni SMP lslam PB. Soedirman, Cijantung Jakarta Timur, telah menyebar ke sekolah-sekolah SMA favorit Negeri/Swasta, baik di dalam maupun di luar DKI Jakarta, bahkan sampai di luar negeri. Karena hal tersebut telah menjadi salah satu misi sekolah ini. Dengan lingkungan sekolah yang aman, nyaman, menyenangkan, menantang, dan bermutu, diharapkan setiap peserta didik dapat mengoptimalkan potensi yang dimilikinya, sehingga mereka dapat berprestasi sesuai dengan potensinya yang optimal tadi.

 

Buku yang ada di tangan pembaca ini mengupas tentang Ke-Soedirman-an, yang isinya menjelaskan berbagai karakter dan budaya yang dikembangkan di sekolah ini. Diharapkan dengan hadirnya buku ini, dapat membantu peserta didik, orang tua, masyarakat, dan pemerintah (stakeholders) untuk mengenal lebih dekat tentang SMP Islam PB. Soedirman, Cijantung Jakarta Timur. Sehingga, setelah mengenal lebih dalam, diharapkan akan memberikan dukungannya untuk perbaikan dan kemajuan sekolah ini di masa-masa mendatang.

Walhamdulillahi Rabbil ’Alamin.

 

Jakarta, 12 Juli 2010

Kepala Sekolah,

 

ttd.

 

Drs. H. Nur Alam, M.A.

Nrp. / Nrk. 890.264/093

 

 

 


SAMBUTAN

KETUA MAJELIS PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH

YAYASAN MASJID PB. SOEDIRMAN

 

 

Bismillahirrahmanirrahim,

Sebagai Ketua Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah Yayasan Masjid PB. Soedirman, Cijantung Jakarta Timur, yang membawahi semua satuan pendidikan di yayasan ini, saya menyambut baik dan memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya atas usaha SMP Islam PB. Soedirman, menyusun dan menghadirkan buku tentang Ke-Soedirman-an, yang menjadi ciri khas yayasan ini dalam setiap kegiatan Masa Orientasi Peserta Didik (MOPD) pada tahun pelajaran baru.

 

Saya sangat yakin, apa yang terkandung dan ditulis di dalam buku ini akan memberikan manfaat yang besar, baik bagi guru, karyawan, peserta didik, orang tua, dan masyarakat. Sehingga, harapan dan kepercayaan orang tua terhadap sekolah ini akan semakin bertambah kuat, yang pada gilirannya akan terjadi sinergi yang postif antara sekolah, orang tua dan masyarakat dalam dunia pendidikan.

 

Juga harapan saya kepada pimpinan, guru, dan karyawan SMP Islam PB. Soedirman, untuk tidak henti-hentinya memberikan layanan yang terbaik kepada peserta didik dan orang tua mereka. Karena hanya layanan yang baik, sekolah ini akan terus diminati dan dpercaya oleh para orang tua dan masyarakat. Akhirnya, saya sekali lagi mengucapkan terima kasih atas usaha-usaha yang telah dilakukan oleh sekolah ini, semoga senantisa berjalan sesuai dengan rencana. Amin.

 

Jakarta, 12 Juli 2010

Ketua Majelis Dikdasmen,

 

ttd.

 

Drs. H. Agus Rukmana, M. Pd.

Nrp. 860.186


KARAKTER DAN BUDAYA SEKOLAH

YANG AMAN, NYAMAN, MENYENANGKAN, MENANTANG, DAN BERMUTU

DI SMP ISLAM PB. SOEDIRMAN *)

 

A. Pendahuluan

SMP Islam PB. Soedirman adalah salah satu sekolah umum swasta Islam (SUSI), yang bernanung di bawah Yayasan Masjid Panglima Besar Soedirman, dan berada di provinsi DKI Jakarta bagian Timur, tepatnya di Jalan Raya Bogor Km. 24 Cijantung Jakarta Timur. Berdiri di atas tanah milik TNI AD. seluas 3,6 hektar, yang memiliki karakter dan budaya sekolah yang unik, yaitu karakter dan budaya sekolah yang aman, nyaman, menyenangkan, menantang, dan bermutu. Mengapa disebut demikian? Selengkapnyha akan dijelaskan sebagai berikut:

 

1.   Aman, karena lingkungan sekolah ini berada di antara sekolah-sekolah seperti TK, SD, SMA, STM, SMEA, STIE-KN, dan STKIP-KN, yang bernaung di bawah Yayasan Masjid PB. Soedirman, dengan memiliki batas pagar tersendiri, di mana sejak belajar mulai pukul 06.30 – 15.30, seluruh peserta didik berada di dalam kampus, sehingga terpelihara dari pengaruh pergaulan luar sekolah yang sering berdampak negatif. Mereka belajar sehari penuh (Islamic full day school) selama 5 hari dalam sepekan, dengan bimbingan dan arahan yang sarat dengan nilai-nilai keislaman dari guru-guru dan karyawan selama mereka berada di sekolah.

2.   Nyaman, karena suasana hubungan inter-personal dan intra-personal seluruh warga sekolah (peserta didik, guru, karyawan, yayasan dan orangtua) penuh dengan semangat kekeluargaan, persaudaraan, dan ukhuwwah Islamiyyah yang dinamis, sehingga setiap warga sekolah merasa nyaman dalam satu kesatuan kelurga besar yang dihimpun dalam satu komunitas sekolah. Kedekatan suasana hubungan emosional dan dan bathiniyah ini akan terus berlanjut, meskipun mereka sudah menjadi Alumni kelak.

_________________________

*)   Disusun dan disampaikan oleh Nur Alam, dalam Masa Orientasi Peserta Didik Baru (MOPDB),

SMP Islam PB. Soedirman, Cijantung Jakarta Timur Tahun Pelajaran 2009/2010

Jum’at, 24 Rajab 1430 H. / 17 Juli 2009 M.

3. Menyenangkan, karena suasan pembelajaran di sekolah ini dilengkapi dengan fasilitas yang cukup lengkap sesuai dengan standar nasional pendidikan (SNP). Dengan fasilitas sekolah yang demikian, setiap peserta didik diharapakan mampu belajar ’mengalami’ bukan ’menghayalkan’ rumus-rumus, teori-teori, atau dalil-dalil saja. Mereka mampu mempraktikkan setiap teori yang mereka peroleh dari guru-gurunya. Dengan demikian mereka terkondisi dalam suasana pembelajaran yang ’menyenangkan’, yang berdampak pada penguatan dan peningkatan potensi, bakat, motivasi, dan prestasi dalam belajar.      

4. Menantang, karena suasana pembelajaran yang kompetitif di kelas. Setiap guru membelajarkan peserta didiknya dengan model student center, dan dengan pendekatan pembelajaran kontekstual (contextual teaching and learning), di mana setiap peserta didik merasa ’tertantang’ untuk melakukan sesuatu yang kontekstual dengan kehidupan nyata mereka. Peran guru sebagai fasilitator, dan peran peserta didik sebagai a learner (pembelajar) yang senang melakukan eksplorasi dan eksprimentasi yang menantang.

5.   Bermutu, karena suasana lingkungan sekolah yang aman, suasana hubungan antar warga sekolah yang nyaman, suasa pembelajaran di sekolah yang menyenangkan dengan fasilitas yang standar, dan suasana pembelajaran di kelas yang menantang, maka diharapkan akan berdampak pada peningkatan mutu lulusannya. Secara sederhana dapat digambarkan bahwa dimulai dari intake yang mendukung, input yang standar, di-proses dengan kinerja yang profesional, dan Insya Allah akan melahirkan suatu lulusan (output) pendidikan yang bermutu. Ke depan, diharapkan outcomes-nya nya akan lebih produktif.

 

Istilah sekolah yang aman, nyaman, menyenangkan, menantang, dan bermutu tersebut, kadang juga disebut dengan istilah Greean School, oleh pak Letjen TNI AD. (Purn) Soerjo Wirjohadipoetro (Ketua Pengurus Harian Yayasan ini). Karena dengan suasana lingkungan sekolah yang hijau tersebut diharapkan akan tercipta suasana pembelajaran yang aman, nyaman, menyenangkan, menantang, dan bermutu di sekolah tersebut. Istilah pembelajaran dalam suatu definisi dipandang sebagai upaya mempengaruhi peserta didik agar belajar. Atau secara singkat dapat dikatakan bahwa proses pembelajaran sebagai upaya membelajarkan peserta didik. Akibat yang dominan tampak dari tindakan pembelajaran adalah peserta didik akan (1) belajar sesuatu yang mereka tidak akan pelajari tanpa tindakan pembelajar, atau (2) mempelajari sesuatu dengan cara yang lebih efektif dan efisien.

Sebagian guru sering menyamakan istilah pengajaran dan pembelajaran. Padahal pengajaran (instructional) lebih mengarah pada pemberian pengetahuan (transfer of knowledge) dari guru kepada peserta didik, yang kadang kala berlangsung secara sepihak. Sedangkan pembelajaran (learning) adalah suatu kegiatan yang berupaya membelajarkan peserta didik secara terintegrasi dengan memperhatikan faktor lingkungan belajar, karakteristik peserta didik, karakteristik mata pelajaran, serta strategi pembelajaran, baik penyampaian, pengelolaan, maupun pengorganisasian pembelajaran (Hamzah B. Uno, 2007).

 

B.   Sejarah Yayasan

Yayasan Masjid Panglima Besar Soedirman adalah sebuah yayasan Islam, yang bergerak di bidang da’wah, pendidikan, dan sosial. Berlokasi di Jl. Raya Bogor Km. 24, Cijantung Jakarta Timur. Berdiri sejak tahun 1966, sesuai dengan Akte Notaris Nomor: 127-II-1966 tanggal 21 Februari 1966. Cita-cita awal berdirinya yayasan ini adalah untuk mewujudkan sebuah bangunan masjid sebagai sarana ibadah umat Islam Cijantung dan sekitarnya. Mengingat masih belum tersedianya sekolah sebagai sarana pendidikan di Cijantung, maka tahun 1969 mulailah dirintis berdirinya sekolah-sekolah dari TK, SD, SMEP, SMP, SMA, STM, SMEA, PGA 4 Tahun, dan PGA 6 Tahun.

Adapun Badan Pendiri Yayasan Masjid Panglima Besar Soedirman adalah :

  1. Kolonel TNI AD. (Purn) H. A. Hadidjaja       (Alm.)
  2. H. Haza Sarmili                                             (Alm.)
  3. H. Chandra Hassan                                     (Alm.)
  4. Mayor TNI AD. (Purn) H. Ridwan Cholil      (Alm.)
  5. Mayor TNI AD. (Purn) H. Hoesni Moecoffa   (Alm.)
  6. H.M. Natsir                                                    (Alm.)
  7. Kapten TNI AD. (Purn) H. A. Basjir               (Alm.)

Dalam perjalanannya, Yayasan Masjid Panglima Besar Soedirman mengalami beberapa perubahan. Berdasarkan Pernyataan Keputusan Rapat Yayasan Masjid Panglima Besar Soedirman Cijantung, tanggal 4 Desember 1992, No. 92 tentang Pengangkatan Anggota Badan Pendiri, yaitu KRMH. Soerjo Wirjohadipoetro dan H. Burhani Tjokrohandoko, serta pernyataan Keputusan Rapat Yayasan Masjid Panglima Besar Soedirman No. 7, tanggal 12 Maret 1999 tentang Pengangkatan Penambahan Anggota Badan Pendiri, dengan susunan sebagai berikut:

  1. Mayor TNI AD (Purn) H. Hoesni Moecoffa   (Alm.)
  2. Letjen TNI AD. (Purn) H. KRMH. Soerjo Wirjohadipoetro
  3. H. Haza Samali                                                 (Alm.)
  4. Drs. H. Achmad Suyuti
  5. H. Achmad Budiman Hadidjaja                                     (Alm.)
  6. H. Soenadi                                                         (Alm.)
  7. H. Soedarman Sastrohartono                        (Alm.)

Terakhir dengan diberlakukannya Undang-Undang No. 16 Tahun 2001 tentang Yayasan, maka Kepengurusan Yayasan Masjid Panglima Besar Soedirman dibagi menjadi: (1) Badan Pembina Yayasan, (2) Badan Pengurus, dan (3) Pengawas.

Berdasarkan hasil rapat Badan Pembina Yayasan tanggal 21 Juni 2007, telah ditetapkan susunan Badan Pengurus Harian (BPH) Yayasan Masjid PB. Soedirman sebagai berikut:

1.   Ketua                       : Letjen TNI AD. (Purn) H. KRMH. Soerjo Wirjohadipoetro

2.   Wakil Ketua I         : Mayjen TNI AD. (Purn) H. Chalid Karim Leo, SH. M.Sc., M.Pd.

3.   Wakil Ketua II       : Hj. dr. Endang Titiek Surjandari, MARS.

4.   Sekretaris               : H. Suhardi, S.Pd.I.

5.   Bendahara             : Hj. Suratmi, S.Pd.

6.   Curator                 : Prof. Dr. Muhtosim Arief, MBA., CPM.

7.   Pengawas             : Dr. H. Sugiharto, M.M.

 

Dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya, Pengurus Harian Yayasan Masjid PB. Soedirman dibantu oleh 2 orang Wakil Ketua. Wakil Ketua I membidangi pendidikan, dan Wakil Ketua II membidangi non-Kependidikan. Wakil Ketua I dibantu oleh dua orang Ketua Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen), dan Kaetua Majelis Pendidikan Tinggi (Dikti). Sedangkan Wakil Ketua II dibantu oleh dua orang Ketua Majelis, yaitu Ketua Majelis Masjid dan Ketua Majelis Umum. Keempat Ketua Majelis tersebut adalah:

  1. Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah

Ketua : Drs. H. Agus Rukmana, M. Pd.

  1. Majelis Pendidikan Tinggi

Ketua : Kolonel Drs. Supardi, M.M.

  1. Majelis Masjid

Ketua : Drs. H.M. Haryono Hadidjaja, MM.

  1. Majelis Umum

Ketua : Ir. H. Budiyono

 

Sedangkan para Kepala Sekolah dan Sekolah Tinggi yang saat ini memimpin satuan pendidikan mulai dari TK Islam, SD Islam, SMP Islam, SMA Islam Pusat, SMA Islam Galaxy, SMA Islam Pd. Ungu-Bekasi, SMK 1 (STM), SMK 2 (SMEA), STKIE-KN, dan STKIP-KN, adalah sebagaimana berikut ini:

1.   TK Islam Pembina PB. Soedirman                       :   Hj. Supinah, S.Pd.

2.   SD Islam Teladan PB. Soedirman                       :   H. Suhardi, S.Pd.

3.   SMP Islam PB. Soedirman                                   :   Drs. H. Nur Alam, MA.

4.   SMA Islam PB. Soedirman (Pusat)                     :   Drs. H. Syamsuddin Hasibuan, MM.

5.   SMA Islam PB. Soedirman (Galaxy-Bekasi)       :   Ir. H. Kusnaedi, MM.

6.   SMA Islam PB. Soedirman (Pd. Ungu-Bekasi)   :   Drs. H. Ade Heryadi, M. Pd.

7.   SMK Islam PB. Soedirman 1 (STM)                     :   Drs. H. Surahmanto Qomar

8.   SMA Islam PB. Soedirman 2 (SMEA)                 :   Dra. Hj. Ikah Atikah, MM.

9.   STIE Kusuma Negara, Jakarta                           :   Prof . Dr. Muhtosim Arief, MBA, CPM.

10. STKIP Kusuma Negara, Jakarta                         :   Dr. H. Sugiharto, MM.

11. International Cosmopoint College of Technology: Drs. H.M. Hazairin, SL., MM.

 

Amal usaha Yayasan Masjid PB. Soedirman dalam bidang pendidikan adalah TK Islam Pembina, SD Islam Koalisi SEAMEO, SMP Islam Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional dan Berasosiasi dengan ASP-net UNESCO, SMA Islam Pusat Rintisan Sekolah Kategori Mandiri (RSKM), SMK Islam 1 Sekolah Kategori Mandiri (Jakarta), SMK Islam 2 Sekolah Kategori Mandiri (Jakarta), SMA Islam Galaxy Rintisan Sekolah Kategori Mandiri (RSKM), dan SMA Islam Pondok Ungu Rintisan Sekolah Kategori Mandiri (RSKM). Semua satuan pendidikan tersebut sudah terakreditasi “A” Plus.

 

Seiring dengan kemajuan serta kebutuhan masyarakat di kawasan Cijantung khususnya, dan di kawasan Jakarta Timu pada umumnya, sekolah di lingkungan Yayasan Masjid Panglima Besar Soedirman juga semakin bertambah, maka sejak tahun 1976 telah diresmikan Universitas Kusuma Negara dengan tiga Fakultas, yaitu Fakultas Teknik, Fakultas Ekonomi, dan Fakultas Keguruan. Dalam perkembangannya, Universitas ini oleh koperasi Wilayah III diturunkan statusnya menjadi dua Sekolah Tinggi, yaitu (1) Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Kusuma Negara, dan (2) Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Dan Alhamdulillah pada tahun 1999, STIE Kusuma Negara mendapat status akreditasi ”A” dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN PT). Begitu pula untuk Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan-nya.

 

Dengan bantuan Gubernur DKI Jakarta Letjen. (prn.) Tjokropranolo (waktu itu), maka dibangunlah sebuah bangunan masjid, yang kemudian diberi nama ”Masjid Panglima Besar Jenderal Soedirman”. Peletakan batu pertama dilakukan oleh Gubernur DKI Jakarta, Tjokropranolo, pada 30 Nopember 1979, dan diresmikan penggunaannya oleh Presiden RI Jenderal TNI AD. (Purn) Soeharto, pada hari Kamis, 12 Nopember 1981.

 

C. Sejarah Perjalanan SMP Islam PB. Soedirman

Dalam perjalanannya sejak didirikan tahun 1969 sampai sekarang, SMP Islam PB. Soedirman telah melakukan berbagai inovasi kreatif, terutama dalam memberikan layanan pendidikan kepada seluruh peserta didik, yaitu dengan memberikan layanan pendidikan yang berkeadilan bagi peserta didiknya. Berkeadilan berarti mereka dilayani sesuai dengan potensi kecerdasan dan bakat istimewa (PKBI)-nya masing-masing, di mana mereka dikelompokkan ke dalam: kelas plus, kelas cerdas istimewa (akselerasi), kelas bahasa Asing, dan kelas bernuansa agama. Untuk memasuki kelas kelas tersebut, dilakukan seleksi yang ketat oleh Tim yang dibentuk sekolah. Brikut ini sejarah perjalannya sampai saat ini:

  • Menjadi salah satu sekolah penyelenggara pendidikan reguler sejak tahun 1969 – sekarang, dengan SK. Pengukuhannya tahun 1971, dengan Nomor: 190/Kbin-PUMP/H/1971;

 

  • Menjadi salah satu sekolah penyelenggara Pendamping Unggulan (Plus) DKI Jakarta sejak tahun 1995 - sekarang dari 48 SMP Negeri/Swasta;

 

  • Menjadi salah satu dari 11 sekolah rintisan Program Percepatan Belajar (Akselerasi) se-Indonesia, sesuai dengan SK. Dirjen Dikdasmen Nomor: 217/C/Kep./MN/2000, tanggal 17 Juli 2000. Sampai saat ini sudah ditetapkan dengan SK. Dirjen Dikdasmen Depdiknas sebanyak 56 sekolah untuk satuan pendidikan SD, SMP, SMA pada 26 propinsi se Indonesia;

 

  • Menjadi salah satu sekolah dalam Jaringan Proyek Sekolah-Sekolah Berasosiasi dengan UNESCO (ASP-Net), tanggal 7 Oktober 2003, bersama 160.000 lebih sekolah di seluruh dunia;

 

  • Menjadi salah satu sekolah dalam kategori Green School (sekolah yang aman, nyaman, menyenangkan, menantang, dan bermutu) dari 3 SMP Swasta Islam di DKI Jakarta, dari LSM Persaels, 20 Mei 2006;

 

  • Menjadi salah satu Sekolah Standar Nasional (SSN) tahun 2006 bersama 124 SMP Negeri/Swasta se-Indonesia dengan Surat Keputusan (SK) Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Pertama (SMP) Ditjen Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah, Departemen Pendidikan Nasional Nomor: 758a/C3/KEP/2006 tanggal 30 Mei 2006 tentang Penetapan Sekolah Menengah Pertama (SMP) Standar Nasional (SSN) Tahun Anggaran 2006 (Angkatan ke-3);

  • Menjadi salah satu anggota The APEC e-Learning Community Builders (ALCoB), Korea Selatan, 20 September 2007 (Angkatan ke-7 dari 7 negara peserta: China, Viet Nam, Russia, Indonesia, Brunei Darussalam, Malaysia, dan Philippines).

 

  • Menjadi salah satu Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) Angkatan ke III se-Indonesia sesuai dengan SK Direktur Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Pertama (PSMP) Ditjen Mandikdasmen, Departemen Pendidikan Nasional RI, Nomor: 1880/C3/DS/2008, tanggal 19 Nopember 2008.

 

 

Dalam usianya yang sudah 40 tahun lebih, SMP Islam PB. Soedirman sudah mengalami 5 generasi pimpinan, yaitu: (1) H. Soerjo Moeljono (1969-1988), Drs. H. Ahmad Suyuti (1988-1989), H. Sofan Dimjati, S.Pd. (1989-1995), Drs. H. Munawir (1995-1998), dan Drs. H. Nur Alam, M.A. (selama 3 periode:1998-2003, 2003-2007, dan 2007-2011).

 

Adapun sarana dan prasaran yang tersedia sebagai berikut: Masjid yang luas, Kelas 2 ruang berbasis IT, Lab. Komputer dan Internet (free of charge), Hotspot Area, Lab. IPA (Fisika, Biologi, Kimia) dan Green House, Pesona Fisika dan Matematika, Lab. Bahasa Asing dengan Native Speaker-nya, Lab. Tata Boga, Perpustakaan Digital, LCD/VCD dari Pustekkom, OHP setiap kelas, Poliklinik, Lapangan Olahraga dan Parkir, Musik Quantum, Kantin dalam Kampus, Taman Sekolah yang Asri, Bank Muammalat Indonesia (BMI), Ruang Kepala Sekolah, Ruang Wakil Kurikulum, Ruang Wakil Kesiswaan, Ruang Bimbingan dan Konseling, Ruang Guru, Ruang Tata Usaha, Ruang OSIS, Ruang UKS, Ruang Seni, dan Ruang Produksi.

 

D. Karakter dan Budaya Sekolah (School Character and Culture).

Selain beberapa keunikan yang telah disebutkan di atas, SMP Islam PB. Soedirman masih memiliki banyak keunikan lain yang jarang dimiliki oleh sekolah-sekolah lainnya. Keunikan tersebut telah menjadi komitmen karakter dan budaya sekolah (school character and culture) yang kuat, konsisten, dinamis, dan kontinyu. Karakter dan budaya sekolah tersebut tertanam kuat ke dalam semua warga sekolah, dilaksanakan dengan penuh konsistensi tinggi dalam suasana yang dinamis, dan terus berlangsung secara kontinue dengan tidak mengenal kata berhenti.

Dengan berbekal pada karakter dan budaya sekolah tersebut, menjadikan sekolah ini unggul dan favorit di masyarakat. Keberadaannya sudah menjadi buah bibir dan pilihan para orangtua. Mereka akan berusaha berlomba untuk menyekolahkan putera puterinya ke sekolah ini, walaupun dalam seleksi masuk peserta didik baru setiap tahunnya, sekolah kami hanya memiliki tempat yang terbatas atau tidak mampu menampung semua peserta pendaftar.

Banyak pertanyaan, mengapa SMP Islam PB. Soedirman menjadi salah satu pilihan orangtua dalam menyekolahkan putera puterinya (mulai kakak sampai adik-adiknya)? Padahal masih banyak sekolah lain (Negeri/Swasta) yang lebih baik? Apa nilai unik dan unggulnya? Dan mengapa mereka begitu antusias, padahal untuk bisa bersekolah di sekolah ini membutuhkan biaya yang tidak sedikit, bahkan sampai juta-an rupiah? Sekali lagi, keunikan dan keunggulan apa yang dimiliki sekolah ini? Fasilitaskah? Jelas tidak, karena sekolah-sekolah setingkat yang ada di sekitar memiliki fasilitas yang jauh lebih lengkap dan canggih. Prestasi dalam Ujian Nasional kah? Tidak juga, karena sekolah ini hanya menempati posisi rata-rata saja di provinsi DKI Jakarta. Lalu apa sih yang unik dan unggul?. Ataukah proses pembelajarannya yang berbeda dengan sekolah lain?

Dari hasil temuan dengan mewawancarai para orangtua dan juga para peserta didik SMP Islam PB. Soedirman, ternyata jawabannya selain memiliki komitmen organisasi dan motivasi kerja, SMP lslam PB. Soedirman juga memiliki karakter dan budaya sekolah yang kuat, konsisten, dinamis, dan continyu. Memiliki visi dan misi yang kuat dan jelas, dengan indikator, sasaran, tujuan, program, dan kegiatan yang jelas pula.

 

E. Menciptakan Karakter dan Budaya Sekolah yang Khas

Menurut Deal dan Peterson (1999), budaya sekolah adalah sekumpulan nilai yang melandasi perilaku, tradisi, kebiasaan keseharian, dan simbol-simbol yang dipraktikkan oleh kepala sekolah, guru, petugas administrasi, siswa, dan masyarakat sekitar sekolah. Budaya sekolah merupakan ciri khas, karakter atau watak, dan citra sekolah tersebut di masyarakat luas.

SMP Islam PB. Soedirman memiliki misi menciptakan budaya sekolah yang aman, nyaman, menyenangkan, menantang, bermutu, dan menghasilkan lulusan yang berkualitas tinggi dalam perkembangan intelektualnya. Juga memiliki karakter taqwa, jujur, kreatif, mampu menjadi teladan, bekerja keras, toleran dan cakap dalam memimpin, serta mampu menjawab tantangan akan kebutuhan pengembangan sumber daya manusia yang dapat berperan dalam perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni (ipteks).

Karakter dan budaya sekolah SMP Islam PB. Soedirman yang telah diciptakan sejak berdirinya tahun 1969 dan secara terus menerus dikembangkan serta disempurnakan sampai saat ini, telah berusia 40 tahun lebih, telah meluluskan 38 angkatan (program regular dan plus) dan 8 angkatan (program akselerasi). Selengkapnya karakter dan budaya sekolah ini dijelaskan berikut ini:

 

  1. Empat Layanan Pendidikan

a. Program Plus (Pendamping Unggulan) Program ini telah berlangsung sejak tahun pelajaran 1995/1996, yaitu ketika Kanwil Depdiknas DKI Jakarta (ketika itu) membuka program Unggulan dan Pendamping Unggulan tingkat SMP dan SMA. Dari 48 SMP Negeri dan Swasta Unggul dan Pendamping di DKI Jakarta, SMP Islam PB. Soedirman ditetapkan menjadi salah satu dari 16 SMP Swasta Pendamping Unggulan (Plus). Program ini dikhususkan bagi peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa sedikit di atas rata-rata, dengan masa belajar 3 tahun.

 

b. Program Percepatan Belajar/Akselerasi (Cerdas Istimewa). Program ini dibuka mulai tahun pelajaran 2000/2001, setelah memperoleh ijin sebagai penyelenggara dari Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Depdiknas, Nomor: 217/C/Kep./MN/2000. Dalam operasionalnya, program ini di bawah Direktorat Pembinaan Sekolah Luar Biasa (PSLB), Dirjen Mandikdasmen, Depdiknas RI., dan SMP Islam PB. Soedirman menjadi salah satu sekolah rintisan program percepatan belajar (akselerasi) dari 11 sekolah penyelenggara di DKI Jakarta dan Jawa Barat, juga menjadi salah satu sekolah penyelenggara uji coba Program Percepatan Belajar dari 56 sekolah penyelenggara pada 25 provinsi se-Indonesia. Program ini diberikan khusus untuk melayani pendidikan bagi peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa di atas rata-rata, dengan masa belajar lebih cepat dari program reguler dan plus, yaitu cukup 2 tahun.

c. Program Kelas Bernuansa Agama (KBA). Program layanan Kelas Agama ini baru digulirkan pada tahun pelajaran 2005/2006. Hal ini dilakukan mengingat besarnya potensi peserta didik dan sumber daya yang dapat mendukung program ini, baik in-put peserta didik maupun potensi sumber daya tenaga pendidik. Program ini dimaksudkan untuk memberikan layanan kepada peserta didik yang mempunyai potensi dan bakat di bidang Agama Islam tetapi juga mempunyai prestasi akademik yang cukup baik (kurikulum nasional).

 

d. Program Kelas RSBI. Program layanan ini dimulai pada tahun pelajaran 2009/2010, dengan mempertimbangkan potensi peserta didik baru yang ternyata dapat dikembangkan menjadi model kelas RSBI dan Aksel RSBI. Program ini dikhususkan untuk memberikan layanan pendidikan bagi peserta didik yang mempunyai prestasi akademik baik (kurikulum nasional) dan memenuhi persyaratan kelas RSBI (Kelengkapan berkas, English Conversation, TIK, IQ minimal 120. Layanan kelas RSBI ini dibuka setelah lulus dalam verifikasi dan pelatihan, serta tiga tahun sebelumnya telah memulai program Sekolah Standar Nasional (SSN).

 

Dalam memberikan semua layanan tersebut, tentu saja diperlukan penyaringan (seleksi) yang ketat dengan maksud agar akurasi atau ketepatan dalam penempatan (placement) peserta didik dapat terjamin. Untuk itulah dalam setiap Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB), dibentuk Tim Seleksi yang kompeten di bidangnya termasuk jasa Psikolog.

 

  1. Seragam Sekolah, sejak Senin – Jum’at, seluruh peserta didik wajib berseragam/berbusana Muslim/Muslimah, yaitu putih biru, khusus hari Rabu, memakai Pramuka, dan Kamis, memakai atas batik, dengan bersepatu dominan berwarna hitam, berikat pinggang hitam, dan berkaos kaki putih tanpa dasi.

 

  1. Budaya Salam, di mana setiap kali bertemu antara guru, karyawan, peserta didik, dan orang tua, mereka saling mengucapkan salam dan berjabat tangan. Ada salam yang khas yang dimiliki sekolah ini, yaitu apabila seorang peserta didik mengucapkan “Assalamu’alaikum….”, maka dijawab dengan “Wa’alaikumussalam ……”, kemudian peserta didik tersebut ditanya lagi, “Bagaimana kabarnya kamu hari ini?”, maka dijawab kembali oleh peserta didik tersebut, “Alhamdulillah, saya sangat berbahagia hari ini”. Jawaban yang terakhir ini yang menjadi khas salam-nya sekolah ini.

 

  1. 5 (lima) S, adalah karakter khas sekolah ini, yaitu S ke-1 = Senyum, S ke-2 = Salam, S ke-3 = Sapa, S ke-4 = Sabar, dan S ke-5 = Syukur. Diharapkan dengan 5 S tersebut akan tercipta suasana pembelajaran yang aman, nyaman, menyenangkan, menantang, dan bermutu.

 

  1. Majalah Smile (Soedirman Magazine Is a Lot of Education) , yang dibuat oleh peserta didik yang tergabung dalam Wasis (Wartawan Siswa) dengan dibantu oleh beberapa guru, yang bertujuan melatih bakat dan minat jurnalistik mereka. Majalah ini diterbitkan 6 bulan sekali, tepatnya setiap pembagian rapor (bulan Januari dan Juli). Dengan liputan berbagai aktivitas sekolah selama 6 bulan yang lalu dan beberapa informasi, pendidikan, hiburan yang aktual. Majalah Smile menjadi kebanggaan warga sekolah ini dan yayasan, karena makin hari tampil makin okey, dengan berita yang berbobot, aktual, tajam, terpercaya, sesuai dengan motto-nya: Smile (Soedirman Magazine Is a Lot of Education): gaul, aktif, dan Islami.

 

  1. Tadarus Al-Qur’an, setiap Senin – Jum’at pagi selama 15 menit (06.30 – 06.45) sebelum pelajaran dimulai dan dipimpin oleh Bapak/Ibu guru yang mengajar jam pertama. Diharapkan dengan membaca ayat-ayat suci Al-Qur’an tersebut, seluruh jiwa, hati, pikiran, dan konsentrasi peserta didik dan guru-guru menjadi terbimbing dalam bingkai kesucian dan ridha Allah. Sehingga ilmu-ilmu yang dituntut menjadi mudah masuk ke dalam relung hati dan pikiran anak-anak, akhirnya mereka menjadi anak yang cerdas, shaleh, dan tercerahkan.

 

  1. Bimbingan Baca Tulis Al-Qur’an, diberikan khusus bagi peserta didik yang belum mampu membaca Al-Qur’an, dilakukan setelah jam belajar berakhir selama semester ganjil saja. Diharapkan hasilnya dapat memberantas buta aksara Al-Qur’an setelah mereka belajar selama 3 tahun di bangku SMP Islam PB. Soedirman.

 

  1. Shalat Dhuha, setiap Senin – Jum’at pagi pada jam istirahat pertama (09.40–10.00 WIB.). Dilaksanakan di Masjid PB. Soedirman yang luas, tenang dan bersih. Diharapkan dengan shalat dhuha tersebut, seluruh jiwa, hati, pikiran, dan konsentrasi peserta didik dan guru-guru menjadi terbimbing dalam bingkai kesucian dan mampu berkonsentrasi pada pelajaran berikutnya. Dan dengan harapan pula semoga mereka menjadi anak-anak yang cerdas, shaleh/shalehah, taat beragama, dan tercerahkan hidupnya serta kedua orangtua mereka dimudahkan dalam mencari rizqi yang halal thayyib mubarak dan segala urusannya.

 

  1. Shalat Berjamaah, seluruh warga sekolah menegakkan shalat berjamaah pada waktu dzuhur dan ‘ashar di Masjid PB. Soedirman yang luas, tenang, dan bersih di bawah bimbingan guru-guru mereka. Di akhir shalat mereka berdoa’a bersama untuk diri sendiri, kedua orangtua mereka, dan keselamatan duniawi dan ukhrawi. Selama mereka berada di sekolah, kedua waktu shalat teserbut akan terjaga, tinggal tiga waktu shalat lainnya di rumah masing-masing.

 

  1. , belajar mulai Senin – Jum’at,       pukul 06.30 – 15 .30 WIB. Setiap hari 10 jampelajaran @ 40 menit. Shalat Dhuha, Dzuhur, dan ‘Ashar di Kampus. Hari Sabtu kegiatan Ekstra-kurikuler bagi kelas VII dan VIII, kelas IX mengikuti pendalaman materi untuk persiapan Ujian Nasional.

 

  1. Pekan Ulangan Harian Bersama (PUHB), dilaksanakan sebulan sekali setelah selesai 4 pekan belajar, minimal terlaksana tiga kali dalam satu semester. Selama sepekan PUHB, kegiatan pembelajaran ditiadakan. Hasil PUHB diserahkan ke orangtua untuk diketahui dan ditanda tangani, kemudian ditampilkan di Website sekolah, agar setiap saat dapat dilihat oleh pihak yang berkepentingan.

 

  1. Quantum Music, adalah musik mozzart yang dibunyikan selama proses pembelajaran berlangsung, yang digerakkan dari kantor kepala sekolah dan disalurkan ke seluruh kelas-kelas yang ada dengan suara yang sangat lembut dan tidak mengganggu proses pembelajaran di kelas. Tujuannya adalah untuk membangkitkan otak kanan peserta didik ketika otak kirinya sedang bekerja (belajar), agar terjadi keseimbangan (balancing). Menurut para ahli, musik quantum dapat memacu belahan otak kiri dalam bekerja.

i

  1. Upacara Bendera, dilaksankan setiap hari Senin pagi oleh sekolah dengan petugas yang dijadwalkan secara bergantian setiap pekannya, dan yang bertindak sebagai pembina upacara adalah wali kelas masing-masing. Kemudian dalam 1 bulan sekali dilaksanakan upacara bendera secara bersama-sama dengan SMA, SMK1, dan SMK2, di lapangan parkir yayasan yang cukup luas, dengan pembina upacara ketua Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah dan para kepala sekolah secara bergantian.

 

  1. Lomba Kebersihan Kelas (LKK), adalah kegiatan kebersihan kelas dan sekitarnya yang dilombakan. Penilaiannya dilakukan oleh para pembina siswa yang ditunjuk. Hasil penilaian tersebut diumumkan sebulan sekali dengan diberikan piala sekolah secara bergilir kepada kelas yang menjadi juara.

 

  1. Konsultasi Akademik, dilakukan oleh para wali kelas kepada peserta didik yang menjadi perwaliannya, atau oleh para guru mata pelajaran kepada peserta didik bianaannya. Selain itu juga dilakukan oleh para wali kelas kepada para orangtua peserta didik, untuk diinformasikan tentang kemajuan / kemunduran prestasi belajar anak-anaknya, kemudian dicarikan solusinya yang terbaik.

 

  1. Apresiasi bagi Juara Kelas, dalam hal ini pihak sekolah memberikan penghargaan (reward) kepada peserta didik yang menjadi juara pertama dengan dibebaskan uang sekolah satu bulan untuk memotivasi kepada yang bersangkutan dan peserta didik yang lainnya. Apresiasi ini diberikan setiap selesai Pekan Ulangan Harian Bersama (PUHB) setiap bulannya.

 

  1. Kemah Lantik, dilaksanakan pada semester ganjil setelah tiga cabang ekstra kurikuler (Paskibra, Pramuka, dan PMR) melakukan beberapa kali latihan. Acara ini dimaksudkan untuk memberikan penguatan dan apresiasi kepada para pesertanya. Kegiatan ini dilakukan di luar Jakarta.

 

  1. Tafakkur dan Tadabbur Alam, adalah kegiatan pembinaan dan tarbiyah kepribadian yang Islami, dilaksanakan oleh para anggota kerohanian Islam (Rohis). Para pesertanya dipanggil ikhwan (laki-laki), dan akhwat (perempuan). Kegiatan ini biasa dilakukan jauh dari keramaian hiruk pikuk duniawi, yaitu di pedesaan, agar mereka dapat menyatu dengan alam dan dapat banyak mengambil pelajaran (i’tibar) dari lingkungan tersebut. Dalam pelaksanaannya, Alhamdulillah, keterlibatan para Alumni Rohis yang sudah kuliah di perguruan tinggi (UI, UIN, UNJ, IPB, UNPAD, dan ITB) sangat membanggakan sekolah.

 

  1. Sanlat Ramadhan dan Ifthar Jama’i. Biasanya dilaksanakan selama 3 hari di bulan Ramadhan dengan jadwal kegiatan yang dikemas menarik, dilakukan secara bergantian sesuai dengan jenjang kelas masing-masing. Tujuannya, agar terwujud ukhuwwah Islamiyyah, aqidah yang lurus, amal yang shaleh, emphati sosial yang tinggi, dan akhlaqul karimah para pesertanya. Biasanya kegiatan diakhiri dengan melakukan buka puasa bersama (ifthar jama’i)

 

  1. Latihan Qurban Jama’i (LQJ), dilaksanakan setiap tanggal 13 Dzulhijjah (hari terakhir tasyriq) setiap tahunnya. Yang menarik dari kegiatan ini, dua bulan sebelum hari H-nya, peserta didik, guru, dan karyawan sudah menabung setiap hari, hingga terkumpul dana yang cukup besar, yaitu sepadan dengan harga antara 4–5 ekor sapi. Setelah disembelih, daging-dagingnya didistrubusikan oleh para guru, karyawan dan pengurus OSIS kepada para mustahiqnya di sekitar tempat tinggal mereka.

 

  1. Manasik Haji. Kegiatan ini diberikan khusus bagi kelas IX, yang menjadi salah satu persyaratan Uji Praktik Ibadah Syari’ah sebelum Ujian Nasional. Dilaksanakan setelah Hari Tasyriq, di Asrama Haji Pondok Gede separuh hari. Hasil kegiatan ini diharapkan menjadi bekal bagi peserta didik ketika mereka hendak melakukan ibadah Umrah maupun Haji setelah mereka tamat.

 

 

  1. Bhakti Sosial OSIS, adalah kegiatan sosial kemanusiaan yang selalu dilakukan oleh para pengurus OSIS dan anggotanya ke tempat-tempat korban bencana alam dan panti-panti dhu’afa, atau tempat-tempat tertentu yang membutuhkan. Biasanya sebelum melakukan aksinya, mereka mengumpulkan uang, pakaian layak pakai, makanan, lauk pauk, dll. dari seluruh anggotanya.

 

  1. Observasi dan Repling, adalah kegiatan ilmiah sehari penuh, yang dilakukan oleh peserta didik kelas IX di awal semester genap. Kegiatan observasi ini dilakukan di Peternakan Tapos, di Ciawi, sedangkan Rute Pendidikan Lingkungan (Repling) dilakukan di dalam Kebun Raya Bogor, yang dipandu oleh para Rimbawan Muda Indonesia (RMI) yang masih kuliah di IPB, untuk mempelajari berbagai jenis tanaman yang ada di sana.

 

  1. Trip Observasi (TO Kelas Akselerasi), dilaksanakan oleh para peserta didik program akseleran di pedesaan selama 4 hari 3 malam (home stay). Beberapa materinya adalah Peduli Kehidupan Desa (PKD), Penelitian Imiah, Presentasi Hasil Penelitian, Bakti Sosial dan Bazar Gratis, Santunan/Khitanan Massal, Shalat Berjamaah, Muhasabah, dan Hiburan. Kegiatan ini dipandu langsung Koordinator Aksel bekerja sama dengan PT. ILNA Training Center, Bogor, yang sudah lama menjadi mitra kami.

 

  1. City Tour (Observasi) adalah Kunjungan museum yaitu mengenalkan kepada peserta didik Kelas VII tentang warisan budaya bangsa yang harus diketahui dan dilestarikan. Kegiatan ini biasanya diberikan khusus untuk kelas VII, dengan mengambil lokasi di dalam Jakarta.

 

  1. Kunjungan Industri yaitu mengenalkan peserta didik tentang kegiatan-kegiatan yang ada di dunia usaha / industri atau pabrik yang relevan dengan mata pelajaran sains, bahasa, sejarah, ekonomi, dan teknologi terkini (biasanya dilakukan di Jawa Tengah).

 

  1. Penelitian llmiah, dilakukan oleh peserta didik kelas bahasa Asing kelas IX terhadap beberapa obyek yang relevan antara pengetahuan ilmiah dengan bahasa Asing. Hasil penelitian tersebut ditulis secara ilmiah dalam bahasa Inggris dalam bentuk laporan, kemudian diujikan dan dipertahankan di hadapan tim penguji dari luar sekolah untuk menjaga objektivitas dan orsinilitas hasilnya.

 

  1. Dialog Interaktif dengan para pakar di bidangnya, mulai dari masalah teknologi, agama, sampai kepada masalah seksiologi. Kegiatan ini dilakukan secara insidental sesuai dengan kebutuhan, situasi dan kondisi.

 

  1. Observasi Foreign Language Class dan Kelas RSBI dan Aksel , adalah kegiatan penelitian lapangan khusus Kelas Bahasa Asing (FLC) kelas VIII, di Desa Pare Kediri, Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo (Putera), Pondok Modern Darussalam Gontor Mantingan Ngawi (Puteri), dan Ngayogjakarta sambil bermalam di sana. Tujuannya adalah mengenal lebih dekat dengan kehidupan komunitas yang sehari-harinya berbahasa Asing (Inggris dan Arab).

 

  1. Liburan Akhir Tahun ke Bali – Yogjakarta, adalah kegiatan wisata bagi peserta didik kelas VIII sebagai hadiah bagi mereka setelah mengikuti ulangan umum semester genap untuk naik ke kelas IX. Perjalanan selama 7 hari 7 malam ini dipandu oleh langsung oleh guru-guru mereka dengan menggunakan bus full AC and music. Dalam perjalanan mereka mempraktikkan shalat jama’ qashar sebagai musfir. Hampir seluruh obyek wisata di Bali dan Yogjakarta mereka kunjungi dengan suasana akrab, bebas tapi sopan, fun and enjoy. Kata mereka perjalanan ini ”very tired but happy”.

 

  1. Native Speaker adalah penutur asli bahasa Asing dari Inggris, yaitu Mr. Kenneth Edward Goudie, kelahiran Liverpool England, yang akrab dipanggil dengan Mr. Kenny. Beliau adalah orang bule asli, yang sudah bekerja di sekolah ini selama 4 tahun. Diharapkan dengan kehadirannya, guru, karyawan, dan peserta didik dapat termotivasi dan berani mengucapkan dan berbicara dalam bahasa Inggirs yang baik dan benar, baik ucapannya dan benar intonasinya.

 

  1. Pelatihan Guru dan Karyawan, adalah kegiatan edukatif dan administratif untuk menambah wawasan dan pengalaman sebagai seorang guru dan karyawan. Biasanya materi ini diberikan dalam setiap rapat kerja guru dan karyawan (Rakergukar) dua kali dalam setahun dengan mengundang para pakar pendidikan, teknologi, dan trainer atau motivator. Motto kami adalah: ”Makin banyak yang kami ketahui, makin banyak pula kekurangan kami sebagai manusia biasa”

 

  1. Tim Perekayasa dan Pengembang Kurikulum (Rekbangkur). Tim ini dibentuk sejak tahun pelajaran 2002/2003, ketika pertama kali sekolah menggunakan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). Mereka terdiri dari guru-guru mata pelajaran. Tugas utama mereka menjadi perekayasan dan pengembang kurikulum, khususnya untuk kelompok mata pelajaran masing-masing, misalnya Ketua Rekbangkur Mapel IPA, IPS, dst. Sampai dengan diberlakukannya Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), keberadaan mereka masih tetap eksis, terutama dalam kerjasama dan menjadi mitra kerjanya dengan Wakil Bidang Kurikulum.

 

  1. Desa Binaan, adalah desa-desa yang pernah dijadikan obyek penelitian dan observasi oleh para peserta didik program percepatan belajar (Akselerasi) di Kecamatan Parakan Salak, Sukabumi Jawa Barat (terdapat 6 desa), tepatnya berdekatan dengan kaki gunung Salak. Shillaturrahmi dan komunikasi tetap berjalan akrab dan harmonis antara sekolah dengan masyarakat desa tersebut.

 

  1. Pumping Students and Achievement Motivation Training, adalah kegiatan pemompaan semangat dan motivasi bagi peserta didik kelas IX beberapa pekan sebelum Ujian Nasional dilaksanakan. Dilaksankan sehari penuh di Bhumi Perkemahan Cibubur, baik kegiatan outbond maupun kontemplasi sebagai acara puncaknya. Acara ini sangat efektif dan cerdas dalam memompa semangat mereka, agar siap mengahadapi UN dengan penuh jujur, percaya diri, optimistik, totalitas, dan penuh perhitungan.

 

  1. Tasyakuran Kenaikan Kelas Akselerasi, biasanya dilakukan setiap acara kenaikan kelas (setiap 8 bulan sekali). Hal ini dirayakan sebagai bentuk apresiasi terhadap prestasi mereka yang mampu belajar cepat dengan prestasi yang membanggakan.

 

  1. Wisuda dan Pelepasan Lulusan, yaitu acara pelepasan peserta didik kelas IX di Sasono Langen Budoyo TMII, Jakarta Timur, sebagai ungkapan rasa syukur ke hadirat Allah SWT., setelah mereka berkonsentrasi dan belajar keras dalam menempuh ujian akhir sekolah dan ujian nasional. Acara ini mirip seperti wisuda para sarjana. Di samping itu, secara simbolis kepala sekolah menyerahkan kembali mereka kepada orangtuanya dengan disaksikan oleh yayasan, guru, karyawan OSIS, dan para undangan lainnya, yang diwakili oleh salah satu orang tua setelah 2 atau 3 tahun mereka menuntut ilmu di sekolah ini.

 

  1. Pembelajaran Berbasis e-Learning. Kegiatan ini diberikan oleh guru-guru kepada peserta didik dalam rangka mempraktikan kompetensi mereka di alam mayapada sekaligus memperkaya wawasan mereka dalam dunia ICT. Semua guru/karyawan dan peserta didik sudah mempunyai email masing-masing. Biasanya guru-guru memberikan tugas-tugas kepada peserta didik       via website sekolah.
  2. Penggunaan Internet di Sekolah, yaitu sebuah ruangan yang dibangun oleh Pengurus Komite Sekolah, yang di dalmnya seluruh guru/karyawan dan peserta didik bebas menggunakan internet untuk kepentingan ekplorasi berbagai informasi dan pengetahuan yang diperlukan. Penggunaan Internet di ruang media ini diberikan secara gratis (free of charge).

 

  1. Buku Tahunan (BT), adalah buku kenangan peserta didik kelas IX yang disusun dan dikerjakan sendiri oleh masing-masing panitia kelas IX di bawah bimbingan wali kelas dan staf kesiswaan. Manfaatnya dapat dijadikan sebagai media shillaturrahim, penawar rasa kangen antara alumni, guru, karyawan, dan Almamater tercinta, dan ajang kreativitas di antara mereka.

 

  1. Organisasi Alumni, adalah sebuah wadah yang menghimpun para Alumni SMP Islam PB. Soedirman mulai angkatan pertama sampai dengan angkatan ke-38. Organisasi Alumni SMP Islam PB. Soedirman, Cijantung Jakarta Timur dibentuk hari Sabtu, 5 Juli 2008. Salah satu agenda alumni untuk tahun pelajaran 2008/2009 adalah: Mentoring, Malam Bina Iman dan Taqwa, LDK Rohis, Tafakkur Alam, Rihlah ’Ilmiyyah, Tarhib Ramadhan dan Ifthar Jama’i, Kajian Remaja, dan Klinik Studi.

 

  1. Home Stay di Pesantren-Pesantren. Kegiatan ini dikhususkan untuk kelas bernuansa agama, agara mereka merasakan hidup dalam dunia pesantren yang sesungguhnya. Untuk angkatan pertama, mereka sudah melakukannya di Pesantren Darut Tauhid (Aa Gym), Geger Kalong, Bandung Jawa Barat.

 

  1. Wisata Ruhani dari Masjid ke Masjid. Kegiatan ini juga dikhususkan untuk kelas bernuasa agama, agar mereka merasakan bagaimana napak tilasnya Rasulullah SAW. beserta shahabatnya dari masjid ke masjid, yang menjadikan masjid sebagai benteng kekuatan ummat Islam. Untuk napak tilas perdana, mereka telah melakukannya pada 4 masjid bersejarah di Jakarta, yaitu Masjid Alam (Si Pitung), Masjid Sunan (Jakarta Utara), Masjid Islamic Center (Jakarta Utara), dan Masjid Cut Mutia (Menteng).

 

  1. Mabit, yaitu kepanjangannya Malam Bina Iman dan Taqwa. Kegiatan ini adalah baian dari kegiatan Wakil Bidang Kesiswaan. Setiap peserta didik di sekolah ini wajib mengikuti kegiatan ini setahun sekali. Sebanyak dua kelas sejak Sabtu sore (jam 5), mereka sudah hadir di masjid untuk diabsen. Kemudian mengikuti kegiatan keagamaan yang sudah disusun rapi, sampai berakhir Ahad pagi (penutupan). Setiap dua malam Ahad sekali kegiatan ini dilakukan dengan bermalam di Masjid PB. Soedirman (Mabit berasal dari bahasa Arab, artinya bermalam/nginap).

 

  1. Fiqhun Nisaa’, adalah kegiatan pembinaan mental yang dirancang khusus bagi peserta didik puteri (para Akhwat). Dilakukan setiap hari Jum’at siang ketika Khutbah dan Shalat Jum’at dilaksanakan. Tujuan utamanya adalah agar mereka tidak keluar kelas ketika kaum pria sedang shalat Jum’at. Materi yang diberikan oleh Ibu-Ibu guru sangat bervariasi, tapi temanya adalah tentang hal-hal yang sedang tren dan aktual dalam konteks fiqih kewanitaan.

 

  1. Wartawan Siswa (Wasis), direkrut dari peserta didik yang memiliki potensi, bakat dan minat pada jurnalistik. Sebelum menjadi Wasis, mereka harus mengikuti seleksi yang ketat dari Tim Penguji. yang kemudian diterbitkan dalam Majalah Smile (Soedirman Magazine Is a Lot of Education), terbit setiap semester sekali.

 

  1. Rampak Gendang, adalah salah satu cabang ekstrakurikuler di sekolah ini. Musik yang ditampilkan merupakan kolaborasi antara gamelan Jawa Tengah dan Jawa Barat. Tampilannya sangat aktraktif, karena banyaknya gendang dan alat musik lainnya yang dibunyikan. Kegiatan ini memililki lebih dari 20 orang personel. Dalam setiap event sekolah, yayasan, atau lembaga/departemen, kelompok ini sering diminta untuk memperlihatkan kebolehannya.

 

  1. Aneka Ekstra Kurikuler adalah kegiatan non akademik yang memberi wadah/kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan kreatifitasnya sesuai dengan bakat dan minatnya masing-masing. Terdapat sekitar 15 jenis ekskul yang dikembangkan di sekolah ini.

 

  1. Komite Sekolah dan Wakil Orangtua Kelas (WOTK), adalah organisasi para orang tua peserta didik yang salah tugas utamanya mendukung dan menunjang kegiatan sekolah dalam upaya meningkatkan mutu layanan pendidikan. Komite Sekolah dan Wakil Orang Tua Kelas (WOTK) adalah patner sekolah dalam berbagai event dan kegiatan. Mereka bekerja dan membantu sekolah tanpa mengharapkan imbalan apapun, kecuali ridha Allah SWT.

 

  1. Subsidi Studi Lanjut bagi Guru (S1, S2, S3), adalah upaya yayasan dan komite sekolah dalam membantu para guru, khususnya dalam menyelesaikan pendidikannya ke jenjang S1. Sampai saat sudah lebih dari 15 guru yang dibantu ke jenjang S1), 16 guru sedang ke jenjang S2, dan 1 guru sedang ke jenjang S3.

 

  1. Networking Pendidikan, adalah jaringan kerjasama yang selama ini telah dijalin oleh sekolah ini baik di Indonesia maupun di luar negeri, seperti Sister School, dengan UNESCO dan ASP-net-nya, serta APEC e-Learning Community Builders (ALCoB), di Korea Selatan, dan Australian Institute of International Understanding (AIIU), Melbourne – Australia.

 

  1. Pemberangkatan Jama’ah Haji, adalah kegiatan penyempurnaan rukun Islam yang kelima bagi guru dan karyawan di sekolah ini yang dibiayai sepenuhnya oleh orangtua peserta didik, yang diambil dari uang PSB bagi kelas VII. Alhamdulillah, sekolah ini telah mampu memberangkatkan untuk 2 (dua) orang setiap tahunnya, 1 orang guru, dan 1 orang karyawan ke tanah suci Makkah Al-Mukarramah.

 

  1. Infaq Guru, Karyawan, dan Peserta Didik, adalah kegiatan pengumpulan infaq di sekolah, yang manfaatnya sangat banyak sekali baik untuk kegiatan sekolah, membantu guru, karyawan, dan peserta didik yang sangat membutuhkan maupun membantu orang-orang di luar sekolah yang juga sangat membutuhkan. Besarnya infaq 2,5% dari gaji/bulan bagi guru/karyawan, dan sukarela setiap hari Jum’at bagi peserta didik/orangtua.

 

  1. Koperasi Dosen, Guru dan Karyawan At-Ta’awun, yang baru berusia 3 – 4 tahun di yayasan ini dan sudah berbadan hukum (No. 399/BH/Meneg.I/II/2005 dan Akte Notaris No. 21 Tahun 2005). Anggotanya hampir 600-an guru/karyawan. Bidang usahannya selain simpan pinjam, pengadaan ATK, buku-buku, dan seragam juga menjalin kerja sama dengan Bank-Bank Syari’ah untuk pinjaman modal usaha, dan Lembaga pendidikan Negeri/Swasta untuk melakukan pendidikan dan pelatihan.

 

  1. Kantin Sekolah Sehat (KSS), adalah tempat jajan seluruh peserta didik juga guru dan karyawan yang disediakan oleh yayasan di dalam Kampus. Seluruh peserta didik dilarang keras jajan di luar kampus, karena banyak masalah yang ditimbulkan. Mereka dapat jajan di kantin tersebut pada saat istirahat tiba dengan jaminan kesehatan yang teruji dan harga yang relatif terjangkau.

 

  1. Kantin Kejujuran, adalah kantin sekolah yang berada di koridor antara dua gedung 3 lantai. Di kantin ini, peserta didik dapat jajan sesuai seleranya, mengambil barang/makanan, membayar, dan mengembalikan sendiri (tanpa penunggu). Diharapkan mereka terdidik untuk berlaku jujur, bertanggung jawab, dan amanah. Alhamdulillah, sudah hampir 1 tahun, kantin ini belum pernah tutup (bubar). Padahal sudah banyak kantin sejenis di sekolah lain yang gulung tikar, karena para pembelinya kurang/tidak jujur.

 

  1. Falsafah Hidup dan Kata-kata Mutiara, yang dipasang pada tempat-tempat strategis di lingkungan sekolah, yang bertujuan agar dapat memotivasi dan memberikan teladan kepada seluruh warga sekolah dalam bekerja, belajar, dan beribadah. Seperti kalimat, ”Lebih baik menunggu 30 menit dari pada terlambat 1 menit”, dan masih banyak yang lainnya.

 

  1. Konsultan Pendidikan dan Psikolog Sekolah, adalah mitra sekolah dalam menjalankan aktivitasnya. Dengan bantuan konsultan pendidikan dan psikolog tersebut, diharapkan sekolah akan mampu       memberikan layanan pendidikan kepada peserta didik, untuk mengoptimalkan potensi kecerdasan yang peserta didik miliki.

 

  1. Latihan Dasar Kepemimpinan Islam (LDKI) bagi OSIS, adalah kegiatan yang dilakukan untuk mendidik peserta didik menjadi calon pengurus OSIS, dan untuk melatih mereka untuk menjalankan roda organisasi yang sesuai dengan aturan pemerintah dan yayasan.

 

  1. Budaya Disiplin, di mana seluruh peserta didik dalam keberadaannya di sekolah mereka diatur sesuai dengan Tata Tertib Sekolah yang berlaku, dan sudah disosialisasikan dan disepakati bersama pada setiap awal tahun pelajaran. Tujuan akhir dari Tata Tertib tersebut agara semua warga sekolah merasa aman, nyaman, menyenangkan dalam melakukan aktivitas sehari-hari.

 

  1. Budaya Jujur, Kerja Keras, Cerdas, Ikhlash, berkualitas, dan Tuntas, adalah budaya yang melekat pada setiap guru, karyawan, dan peserta didik di sekolah ini. Peserta didik dilatih untuk menyelesaikan tugas-tugasnya (terutama dalam latihan-latihan, ulangan, dan ujian) dengan cepat, akurat, tepat waktu, dan hanya berharap mendapatkan pahala dan ridha dari Allah, bukan dari orang lain.

 

  1. Career Day, yaitu kegiatan yang mengarahkan peserta didik untuk menggapai cita-citanya dengan mengundang beberapa tokoh profesional yang sukses dalam meniti karirnya. Program ini dilaksanakan secara insidental, dengan melihat kepentingan dan kebutuhan di lapangan.

 

  1. Pusat Pembibitan Saintis Muda PB. Soedirman, adalah kelompok peserta didik yang memiliki hobi dan keterampilan mengembangkan ilmu pengetahuan, terutama dalam pengembangan tanaman Hidroponik di sekolah. Mereka memiliki base-camp, yang bernama Green House.

 

  1. Tim Peduli Lingkungan (TPL), adalah komunitas peserta didik yang menjadi front liner dalam hal 6 K di sekolah. Mereka dalam menjalankan aktivitasnya terjadwal rapi dengan dibimbing oleh seorang Pembina Siswa, biasanya mereka menggunakan jaket rompi berwarna biru bertuliskan Tim Peduli Lingkungan (TPL) dan berlogo ALCoB.

 

  1. Pelatihan Pembelajaran Bilingual (Dual Languages), adalah program pelatihan dan pendidikan bahasa Inggris bagi guru-guru mata pelajaran Bahasa Inggris, Matematika, Sains Terpadu, TIK, dan IPS Terpadu di sekolah selama 20 kali pertemuan, yang akan digunakan untuk melakukan proses pembelajaran bilingual (Inggris – Indonesia) di kelas Akselerasi dan kelas RSBI. Diklat tersebut sudah dilaksanakan, dengan menggandeng Flash English, Jakarta. Hasilnya, proses pembelajaran bilingual di sekolah ini sudah dilaksanakan di kelas sejak Juli 2009 – sekarang.

 

  1. Memorandum of Understanding (MoU), adalah jalinan kerjasama antara SMP Islam PB. Soedirman dengan lembaga – lembaga pendidikan terkait baik di dalam maupun di luar negeri. Sampai dengan hari ini sudah terjalin kerjasama via MoU dengan: Flash English, Jakarta, STKIP-KN, Jakarta/Uninus, Bandung, SMP Negeri 2, Ciamis, SMP K 4 Penabur, Jakarta, Basic English Course (BEC), Pare Kediri, PT. Aditya Medical Center, Jakarta, Flash English, Jakarta, PT. ILNA Training Center, Bogor. Dan direncanakan di akhir tahun 2010 ini, akan dijajaki MoU dalam bentuk Sister School/Twinning School dengan beberapa sekolah sederajat, di Perth, Aaustralia dan negara lain.

 

  1. Penerapan Standar Sistem Manajemen Mutu ISO 9001:2008, adalah sebagai upaya pemenuhan dalam pengelolaan sekolah terhadap sembilan penjaminan mutu bagi penyelenggara Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) di Indonesia. Proses konsultasi dan sertifikasi ISO 9001:2008 di SMP Islam PB. Soedirman, direncanakan selama enam bulan (Januari – Juni 2010), dilakukan oleh PT. Nadiya Consultants, Bogor (sebagai Konsultan) dan PT. SGS Indonesia, Jakarta (sebagai Asesor).

 

  1. Meraih Sistem Sertifikasi ISO 9001:2008, dari PT. SGS Indonesia, Jakarta, sejak tanggal 29 Juni 2010, setelah dilakukan Audit Eksternal mulai 28 – 29 Juni 2010 oleh Tim Auditor PT. SGS Indonesia, dan direkomendasikan meraih sertifikasi ISO 9001:2008.

 

  1. Seven Values: adalah tujuh nilai atau karakter sekolah, sebagai hasil kristalisasi dari sejumlah karakter dan budaya SMP Islam PB. Soedirman, Cijantung Jakarta Timur. Selengkapnya berikut ini: (1) Integrity Attitude, (2) First in Islamic Moral and Academic Achievement, (3) Build and Maintain Friendships, (4) Innovative and Creative, (5) Respect and Trusted, (6) Discipline of Self Development, and (7) Care and Positive Contribution to Society.

 

F.   Penutup

 

Karakter dan budaya sekolah yang terbentuk di sekolah ini erat kaitannya dengan kegiatan akademik dan kesiswaan, seperti dua sisi mata uang logam yang tak dapat dipisahkan. Melalui kegiatan kurikuler dan ekstrakurikuler yang beragam dalam bidang keilmuan, keolahragaan, dan kesenian, menjadikan peserta didik mampu menyalurkan potensi, minat dan bakatnya masing-masing. Mempunyai integritas, menjunjung tinggi kejujuran, dan memiliki potensi unggul tanpa kehilangan jati diri.

Karakter dan budaya sekolah dapat dimulai dari hal-hal yang kecil, seperti penataan kelas dan ruang guru, serta pemasangan hasil karya peserta didik, foto-foto, dan moto-moto edukatif. Penataan tempat duduk peserta didik yang berpusat pada guru harus diubah menjadi tempat duduk yang mendorong interaksi antarpeserta didik, sehingga mereka dapat belajar dengan aktif, kreatif, dan menyenangkan. Hasil karya peserta didik yang berupa gambar, karangan, puisi, dan kerajinan harus dipasang di ruangan kelas dan tempat-tempat terbuka di sekolah untuk mendorong kebanggaan dalam berprestasi.

Demikianlah sekilas tentang karakter dan budaya sekolah SMP Islam PB. Soedirman, Cijantung Jakarta Timur, yang dapat dipaparkan dalam kesempatan Masa Orientasi Peserta Didik (MOPD) tahun pelajaran 2009/2010 ini, yang secara keseluruhan menjadi wawasan, pengetahuan, apa, mengapa, dan bagaimana tentang Ke-Soedirman-nan itu, yang menjadi salah satu materi dalam MOPD untuk yang untuk kedua kalinya diberikan kepada calon peserta didik baru (Kelas VII) di SMP Islam PB. Soedirman. Semoga bermanfaat sebagai bekal menuntut ilmu di sekolah ini. Amin.

Cijantung, 15072009

 


TENTANG PENULIS

 

Nama lengkap NUR ALAM, lahir di Jakarta, (27 Juli 1959), merupakan putera keempat dari Bapak (H. MURDAYAT, alm.) dan Ibu (Hj. SARWIYAH). Menyelesaikan pendidikan di Sekolah Dasar di Jakarta (1973), Kulliyatul Muallimin Al-Islamiyyah (setingkat SMP dan SMA) Gontor, Ponorogo (1979), S1 IAIN, Jakarta (1986), S2 Universitas Muhammadiyah, Jakarta (2004). Pada tahun 2007 melanjutkan studi S3 di Universitas Negeri Jakarta (sedang proses disertasi).

Sejak tahun 1979 mulai bekerja sebagai guru honorer pada sebuah Madrasah Tsanawiyah (MTs.) Swasta, sambil malamnya menjadi guru private, di Jakarta sampai tahun 1986. Menjadi guru Bahasa Inggris di SMA dan SMEA Metropolitan, Karawang (1987-1989). Pindah lagi ke Jakarta, menjadi guru bahasa Inggris di STM Islam PB. Soedirman, Jakarta (1989-1998), dan sempat menjadi Wakil Kepala Sekolah Bidang Pendidikan Sistem Ganda (PSG) di STM Islam PB. Soedirman (1997-1998), menjadi guru bahasa Inggris di SMA Kusuma Bangsa, Jakarta (1991-1992), menjadi guru bahasa Inggris di SMA Islam PB. Soedirman, Jakarta (1992-1993), menjadi guru bahasa Inggris di STM Yamor Yajaya, Jakarta (1995-1996), dan menjadi guru bahasa Arab di SMP Islam PB. Soedirman, Jakarta (1995-1997), menjadi dosen bahasa Inggris Jur. PAI, Fak. Tarbiyah, Univ. Siliwangi untuk Kelas Rombel Cileungsi (1998-2000). Akhirnya kembali lagi menjadi guru dengan tugas tambahan sebagai kepala sekolah di SMP Islam PB. Soedirman, Jakata (1998– sekarang).

 

Di samping menjadi guru, juga pernah melakukan perjalanan ke luar negeri, yaitu (1) menjadi salah satu pembimbing KBIH PB. Soedirman Angkatan ke-2, Madinah - Makkah, Januari – Pebruari, 2003, (2) menjadi salah satu wakil Indonesia untuk mengikuti Sub-Region Seminar on Government Regulation of Private Education in Southeast Asia, Manila – Phillipines, 3 –7 November, 2003, (3) menjadi salah satu utusan Yayasan Masjid PB. Soedirman, Jakarta, untuk penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) dengan International Cosmopoint College of Technology, Kuala Lumpur, Malaysia, March, 2004 (4) menjadi salah satu utusan Yayasan Masjid PB. Soedirman, Jakarta, untuk penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) dengan Universitas Al-Azhar, Cairo – Mesir, October, 2005, (5) menjadi salah satu delegasi Indonesia untuk mengikuti The 7th Round of APEC e-Learning Training Program, Busan – Korea Selatan, September, 2007, dan (6) menjadi salah satu utusan Yayasan Masjid PB. Soedirman, Jakarta, untuk penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) dalam bentuk Sister School dengan tiga Sekolah Menenegah Pertama Islam (Al-Taqwa College, East Preston Islamic College, dan Mt. Hira College) dan satu Lembaga patnership (Australian Institute of International Understanding) di Victoria, Melbourne – Australian, 26 – 30 April 2010.

 

Menikah dengan (Titi Santa) tahun 1986, dan telah dikaruniai empat anak yaitu: (Azka Fadhilah Alam) Sarjana Ekonomi/Akuntansi (FE-Uhamka) Jakarta, (Ahmad Fikri Al-Banna) mahasiswa (IPB), Bogor, (Farah Nabilla Rahma) siswi (SMAN 39), Jakarta, dan (Firda Sabila Rusyda) murid (SDIT Al-Ishmah), Bekasi Jawa Barat.

 

 

--------------------

Reviw on bokmaker Number 1 in uk http://w.artbetting.net/ William Hill
Full Reviw on best bokmaker - Ladbrokes http://l.artbetting.net/ full information
Powered by Warp Theme Framework
Ranking bookmakers sites
Free Themes | bigtheme.net